Friday, 23 August 2013

Sepetak Gerimis Untukmu

Pada belasan gelas, kuperam seranting ilusi, tentang pesan yang tiba lebih dini, yang diseduh angin dengan nafas terburu. Padahal daun belum sempat mengadu padamu selembar kisah yang disilang-silangkan rindu, dan percakapan-percakapan haru, gugur musim. Serupa harpa, kujelma senar yang mengakar harap, untuk suatu waktu, bisa kau petik. Kau jadikan geletar dan dawai paling cantik.

Di bait antariksa, aku pernah kehabisan cara, menerjemahkan katakata. Apalagi hatimu. Itulah yang menjadi tetiba sebuah jeda meruang pada sepetak gerimis. Lalu adakah yang bergelung hangat di selipan ingatan?

“Ada larik yang belum kauselesaikan dalam sajakmu,” selamu sembari menata kembali huruf-huruf yang semula tercecer, ke aturan paling baku. Kamu berdiri, menjadi sais kereta sebelum jawab berhasil mencium mesra, tanya.

Mencintaimu adalah bait terumit dalam sajakku. Tetapi ketahuilah, tak pernah ada secuil pun inginku berhenti menulis segala tentangmu. Dan dengarlah, Aku hanyalah dingin di sudut paling gerimis. Hanyalah dingin yang ingin lelap didekapmu, dalam rumah paling hangat. K-i-t-a.


Yogyakarta, 24 Juli 2013

Dari Balik Layar Langit Yang Tak Lagi Berwarna Biru

Hai. Sudah lama ya kita tidak lagi bertukar sapa? Apa kabar? Ah, jangankan menanyakan itu. Sekadar menyapa "hai" saja rasanya lebih berat bila dibandingkan dengan berkarung-karung rindu. Rindu yang menyesakkan angka-angka yang dicatatkan kalender. Untuk sepanjang tahunnya.
Hai. Tahukah kamu? masih ada satu pesan (darimu) yang tersisa di inbox-ku. Satu pesan yang sampai kini tak mampu kuhapus, tetapi tak mampu pula kubaca (lagi).
(Dari balik layar langit yang tak lagi berwarna biru, Agustus 2013)