Pada belasan gelas, kuperam seranting ilusi, tentang pesan yang tiba
lebih dini, yang diseduh angin dengan nafas terburu. Padahal daun belum
sempat mengadu padamu selembar kisah yang disilang-silangkan rindu, dan
percakapan-percakapan haru, gugur musim. Serupa harpa, kujelma senar
yang mengakar harap, untuk suatu waktu, bisa kau petik. Kau jadikan
geletar dan dawai paling cantik.
Di bait antariksa, aku pernah
kehabisan cara, menerjemahkan katakata. Apalagi hatimu. Itulah yang
menjadi tetiba sebuah jeda meruang pada sepetak gerimis. Lalu adakah
yang bergelung hangat di selipan ingatan?
“Ada larik yang belum
kauselesaikan dalam sajakmu,” selamu sembari menata kembali huruf-huruf
yang semula tercecer, ke aturan paling baku. Kamu berdiri, menjadi sais
kereta sebelum jawab berhasil mencium mesra, tanya.
Mencintaimu
adalah bait terumit dalam sajakku. Tetapi ketahuilah, tak pernah ada
secuil pun inginku berhenti menulis segala tentangmu. Dan dengarlah, Aku
hanyalah dingin di sudut paling gerimis. Hanyalah dingin yang ingin
lelap didekapmu, dalam rumah paling hangat. K-i-t-a.
Yogyakarta, 24 Juli 2013
Friday, 23 August 2013
Sepetak Gerimis Untukmu
Posted by Rintik Kecil at 12:59 0 comments
Dari Balik Layar Langit Yang Tak Lagi Berwarna Biru
Hai. Sudah lama ya kita tidak lagi bertukar sapa? Apa kabar? Ah, jangankan menanyakan itu. Sekadar menyapa "hai" saja rasanya lebih berat bila dibandingkan dengan berkarung-karung rindu. Rindu yang menyesakkan angka-angka yang dicatatkan kalender. Untuk sepanjang tahunnya.
Hai. Tahukah kamu? masih ada satu pesan (darimu) yang tersisa di inbox-ku. Satu pesan yang sampai kini tak mampu kuhapus, tetapi tak mampu pula kubaca (lagi).
(Dari balik layar langit yang tak lagi berwarna biru, Agustus 2013)
Posted by Rintik Kecil at 11:47 0 comments
Subscribe to:
Comments (Atom)
