Kunamai
kau selembar kabar yang diselubungi gentar, lalu memudar kepanikan. Mengartikan
sepi yang ditanak pagi dalam sekat langit pekat, rindu-rindu berkarat. Tetapi
hari ini rekah waktu masih berdering membangunkanmu. Jika kau tak ingin
bermain-main, maka renungkanlah hal-hal lain. Akan ada suara-suara sederhana,
yang lembut menuju kabut, yang hanyut dalam denyut, yang menguap dari tanah
menjadi hal-hal yang tak mudah; yang
membuatmu mendengar dan merasakan, tanpa perlu memandang, seperti apa warna
hujan.
Kita
adalah kesungguhan yang dikisahkan tetapi lebih sering mencurigai. Awan hitam
di antara pepohonan yang rindang, menggambarkan sebiji nyeri yang bergerigi.
Kau lamat-lamat pergi, mengantongi siang yang bising yang lama-lama asing. Aku
termangu menyimak perangaimu yang getir, yang tidak habis kupikir. Pada
sepasang mata yang berkata-kata, riak begitu jujur, membasuh sekujur geram
paling muram, memunguti temaram dan kerumitan. Bahagia adalah alasan utama. Tetapi
jika kau masih tak percaya, kau bisa tanyai ia.
Kumaknai
ia sebagai jendela berbahasa, keunikan lukisan, sajak menggemaskan, petualangan
menarik, atau apa saja yang memesona, yang bisa membuat kau-aku berkaca,
berkaca-kaca. Kelak perkara-perkara saling melingkari jawabannya juga sesenggukan
itu, ramu dalam pasu yang berlampu. Kau tak lagi jemu yang menyaksikan langit
abu-abu, aku tak lagi pilu yang menyusuri jalanan berbatu. Ia adalah benderang yang memandu pulang sebelum kau-aku benar-benar larut
dalam buram.
Bojonegoro, November 2015
@rintikkecil
