Sunday, 15 November 2015

Waktu yang Paling Jujur (2)

Namaku Dimas, tapi ia lebih suka memanggilku Dim. Aku anak seni rupa sedang ia Hubungan Internasional. Sudah tentu seni bernegosiasi perempuan itu handal sedang kemampuanku menggambar rupa, yang banyak warnanya, hanya bisa dikatakan ‘sekadar lumayan.’ Entah lelucon macam apa yang membuat aku dan ia bisa berteman, ya berteman sebagai teman cerita, begitu ia menamainya.
“Aku juga memiliki teman makan dan teman travelling, asal kau tahu saja,” begitu ucapnya pada saat kita latihan untuk sebuah pementasan. Ya, aku dan ia mulai memutuskan untuk menjadi teman, teman cerita lebih tepatnya semenjak kita resmi memiliki banyak urusan dan alasan untuk berada di ruang teater yang sama. Dari sekian banyak anggota yang bergabung di organisasi kampus ini, aku sendiri tidak mengerti mengapa harus ia, satu-satunya perempuan aneh yang menjadi temanku bercerita. Mungkin benar adanya, bahwa selalu ada alasan untuk pertemuan kita dengan siapa saja.
Nyatanya, aku bisa nyaman bercerita apa saja dengannya. Aku bisa tahu banyak hal setiap kali bercerita dengan perempuan itu, kecuali hal-hal tentang dirinya.
“Ingat kita hanya teman cerita. Kita hanya butuh untuk sekadar saling mengetahui nama saja. Kita bisa membicarakan apa saja, kecuali hal-hal yang lebih jauh tentang diri kita,” begitulah perkataannya.
“Aturan macam apa itu?” tanyaku suatu ketika. Ia tidak lantas menjawab tetapi malah tertawa, tawa yang begitu sumbang, tawa yang begitu tidak enak didengar. Menurutku, ia perempuan sinis, pantas saja ia tidak bisa tertawa dengan manis.
“Kau tahu manusia itu gampang sekali jatuh cinta? Mulanya tidak saling mengenal, lalu saling merasa penasaran, lalu saling mencari tahu, lalu saling bosan, lalu berubah perasaan. Berhenti penasaran. Sikap manusia berubah. Cinta berubah.” Ia nyerocos seperti biasanya.
Bah! Ia pikir ia bukan manusia? Jatuh cinta? Mengapa ia jadi membawa-bawa masalah cinta?
“Hmm.” Aku cuma menimpalinya dengan hmm. Hmm yang begitu panjang. Hmm yang malas-malasan.
“Cuma hmm saja? Tidak bermutu sekali tanggapanmu.”
Apakah ini yang ia maksud sebagai teman cerita?
“Jadi masalahmu apa? Kamu sangat takut jatuh cinta ya.” Aku berusaha menanyainya.
“Aku sama sekali tidak bilang begitu!”
“Kamu sudah bilang begitu!” Aku tahu ia menjadi sebal. Sangat-sangat sebal.
Menurutku ia perempuan yang sangat ekspresif, tentu saja ia akan kelihatan sangat bodoh ketika berusaha menyembunyikan apa yang dirasakannya. Padahal ia adalah pemain sandiwara. Harusnya ia sudah mahir untuk melakukan itu. Tetapi sayangnya ia hanya perempuan nyinyir yang begitu satir.
Pada awalnya aku tidak suka bercerita dengannya atau lebih tepatnya memperdebatkan hal-hal yang tidak penting dengannya tetapi tatapannya, oh aku bisa melihat hujan di kedalaman matanya. Hujan yang membuatku ingin terus membacanya. 

...
November 2015,
@rintikkecil


0 Comments: