Namaku
Dimas, tapi ia lebih suka memanggilku Dim. Aku anak seni rupa sedang ia Hubungan
Internasional. Sudah tentu seni bernegosiasi perempuan itu handal sedang
kemampuanku menggambar rupa, yang banyak warnanya, hanya bisa dikatakan ‘sekadar
lumayan.’ Entah lelucon macam apa yang membuat aku dan ia bisa berteman, ya
berteman sebagai teman cerita, begitu ia menamainya.
“Aku
juga memiliki teman makan dan teman travelling,
asal kau tahu saja,” begitu ucapnya pada saat kita latihan untuk sebuah
pementasan. Ya, aku dan ia mulai memutuskan untuk menjadi teman, teman cerita
lebih tepatnya semenjak kita resmi memiliki banyak urusan dan alasan untuk
berada di ruang teater yang sama. Dari sekian banyak anggota yang bergabung di
organisasi kampus ini, aku sendiri tidak mengerti mengapa harus ia,
satu-satunya perempuan aneh yang menjadi temanku bercerita. Mungkin benar
adanya, bahwa selalu ada alasan untuk pertemuan kita dengan siapa saja.
Nyatanya,
aku bisa nyaman bercerita apa saja dengannya. Aku bisa tahu banyak hal setiap
kali bercerita dengan perempuan itu, kecuali hal-hal tentang dirinya.
“Ingat
kita hanya teman cerita. Kita hanya butuh untuk sekadar saling mengetahui nama
saja. Kita bisa membicarakan apa saja, kecuali hal-hal yang lebih jauh tentang
diri kita,” begitulah perkataannya.
“Aturan
macam apa itu?” tanyaku suatu ketika. Ia tidak lantas menjawab tetapi malah
tertawa, tawa yang begitu sumbang, tawa yang begitu tidak enak didengar. Menurutku,
ia perempuan sinis, pantas saja ia tidak bisa tertawa dengan manis.
“Kau
tahu manusia itu gampang sekali jatuh cinta? Mulanya tidak saling mengenal,
lalu saling merasa penasaran, lalu saling mencari tahu, lalu saling bosan, lalu
berubah perasaan. Berhenti penasaran. Sikap manusia berubah. Cinta berubah.” Ia
nyerocos seperti biasanya.
Bah! Ia pikir ia bukan manusia? Jatuh
cinta? Mengapa ia jadi membawa-bawa masalah cinta?
“Hmm.”
Aku cuma menimpalinya dengan hmm. Hmm yang begitu panjang. Hmm yang
malas-malasan.
“Cuma
hmm saja? Tidak bermutu sekali tanggapanmu.”
Apakah ini yang ia maksud sebagai
teman cerita?
“Jadi
masalahmu apa? Kamu sangat takut jatuh cinta ya.” Aku berusaha menanyainya.
“Aku
sama sekali tidak bilang begitu!”
“Kamu
sudah bilang begitu!” Aku tahu ia menjadi sebal. Sangat-sangat sebal.
Menurutku
ia perempuan yang sangat ekspresif, tentu saja ia akan kelihatan sangat bodoh
ketika berusaha menyembunyikan apa yang dirasakannya. Padahal ia adalah pemain
sandiwara. Harusnya ia sudah mahir untuk melakukan itu. Tetapi sayangnya ia hanya
perempuan nyinyir yang begitu satir.
Pada
awalnya aku tidak suka bercerita dengannya atau lebih tepatnya memperdebatkan
hal-hal yang tidak penting dengannya tetapi tatapannya, oh aku bisa melihat
hujan di kedalaman matanya. Hujan yang membuatku ingin terus membacanya.
...
November 2015,
@rintikkecil
...
November 2015,
@rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment