Luka-luka kerap tidak mudah diterima beberapa umpama. Aku setelah ini akan bercerita perihal perih yang tak luruh-luruh, menggantungkan bilah-bilah tanya, yang bertanya-tanya pada air mata. Nanti kita akan ziarahi, serentet peristiwa istimewa, yang menggenangkan kita pada suara-suara, cuaca-cuaca, dan sendu hujan dalam sebuah pelukan. Ada almanak yang mencatat kelak, jejak-jejak pada sesuatu yang beranjak, melautkan bayang meluaskan pandang. Namamu adalah yang membuatku bertahan, sampai puisi ini kutuliskan, untuk kaubaca pada pertemuan bermakna kita. Garis rentang dalam bimbang seakan hilang perlahan-lahan, jauh menepi, menjadi bebuih.
Serupa
semesta, matamu mengandung rahasia. Ayu yang membuat awan-awan begitu rindu. Sayang,
aku ingin memelukmu, melihatmu tumbuh penuh kisah yang tak pernah kekurangan
cara memaknai anugerah. Tidak ada yang mampu melemahkanmu, mengapungkanmu dalam
pilu, atau membutakanmu dalam sunyi, tanpa aba-aba darimu sendiri. Remuk tak
selalu berarti sia-sia tetapi daya yang bisa kau muarakan menjadi guna yang
cukup untuk menguatkanmu lebih hidup, menerjemahkan hidup. Aku bersamamu,
menjadi pengingat dan penyemangat, yang menunjukkan bulan begitu lentik, yang akan
terus memastikan malam begitu cantik; hingga
tak ada rangkai penat yang menyelinap, ke tubuh lelap.
Bojonegoro,
17 November 2015 (09: 23)
Dari
perempuan yang selalu ingin melihatmu bahagia
@rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment