Tuesday, 17 November 2015

Lanang Dan Sastra


Luka-luka kerap tidak mudah diterima beberapa umpama. Aku setelah ini akan bercerita perihal perih yang tak luruh-luruh, menggantungkan bilah-bilah tanya, yang bertanya-tanya pada air mata. Nanti kita akan ziarahi, serentet peristiwa istimewa, yang menggenangkan kita pada suara-suara, cuaca-cuaca, dan sendu hujan dalam sebuah pelukan. Ada almanak yang mencatat kelak, jejak-jejak pada sesuatu yang beranjak, melautkan bayang meluaskan pandang. Namamu adalah yang membuatku bertahan, sampai puisi ini kutuliskan, untuk kaubaca pada pertemuan bermakna kita. Garis rentang dalam bimbang seakan hilang perlahan-lahan, jauh menepi, menjadi bebuih.

Serupa semesta, matamu mengandung rahasia. Ayu yang membuat awan-awan begitu rindu. Sayang, aku ingin memelukmu, melihatmu tumbuh penuh kisah yang tak pernah kekurangan cara memaknai anugerah. Tidak ada yang mampu melemahkanmu, mengapungkanmu dalam pilu, atau membutakanmu dalam sunyi, tanpa aba-aba darimu sendiri. Remuk tak selalu berarti sia-sia tetapi daya yang bisa kau muarakan menjadi guna yang cukup untuk menguatkanmu lebih hidup, menerjemahkan hidup. Aku bersamamu, menjadi pengingat dan penyemangat, yang menunjukkan bulan begitu lentik, yang akan terus memastikan malam begitu cantik; hingga tak ada rangkai penat yang menyelinap, ke tubuh lelap.

Bojonegoro, 17 November 2015 (09: 23)
Dari perempuan yang selalu ingin melihatmu bahagia
@rintikkecil

0 Comments: