Thursday, 12 November 2015

Dua Belas November

: Gilang Perdana

Lekat di ingatan caramu membaca hujan di mataku dan keresahan-keresahan itu. Sejauh-jauh pandang bisa kita dekatkan. Sayang, ketika kau mengitari jalan dan kau dapati luka yang beragam, bagilah denganku. Percayalah, aku tidak hanya bisa menjadi teman cerita yang menyenangkan dan menyebalkan. Lebih dari itu, aku ingin melengkapimu. Karena musim akan puisi ketika ada aroma kehangatan yang memeluki.

Selanjutnya menunggu adalah perkara paling susah setelah tabah. Tetapi mengingatmu adalah selaksa dekap yang membuat rindu tatap menatap. Di situ aku ingin menjadi sebab yang diantar waktu, yang layar ke hatimu, yang duduk bersisian denganmu, yang rebah ke pundakmu. Kita akan saling mendengar kabar debar, yang bergandengan meyakinkan; kau-aku tak pernah sendirian.

Maka, rasakanlah harum hujan yang memenuhi kota, yang saling bertaut menyemburkan tiap-tiap rintiknya. Lalu rumput-rumput di pekarangan yang berkilauan, nyanyian dedaunan yang sampai pada ilalang. Mengantarkan cinta ke alamat yang ditujunya. Kau bahkan akan menemukan aku di sana, menjadi yang paling bahagia menyambut dua belas di bulan November.

Selamat ulang tahun. Aku merindukanmu. Sangat. Sungguh. Benar-benar.

November 2015,
Kekasihmu.

0 Comments: