: Gilang Perdana
Lekat
di ingatan caramu membaca hujan di mataku dan keresahan-keresahan itu.
Sejauh-jauh pandang bisa kita dekatkan. Sayang, ketika kau mengitari jalan dan
kau dapati luka yang beragam, bagilah denganku. Percayalah, aku tidak hanya
bisa menjadi teman cerita yang menyenangkan dan menyebalkan. Lebih dari itu, aku
ingin melengkapimu. Karena musim akan puisi ketika ada aroma kehangatan yang
memeluki.
Selanjutnya
menunggu adalah perkara paling susah setelah tabah. Tetapi mengingatmu adalah
selaksa dekap yang membuat rindu tatap menatap. Di situ aku ingin menjadi sebab
yang diantar waktu, yang layar ke hatimu, yang duduk bersisian denganmu, yang
rebah ke pundakmu. Kita akan saling mendengar kabar debar, yang bergandengan meyakinkan;
kau-aku tak pernah sendirian.
Maka,
rasakanlah harum hujan yang memenuhi kota, yang saling bertaut menyemburkan
tiap-tiap rintiknya. Lalu rumput-rumput di pekarangan yang berkilauan, nyanyian
dedaunan yang sampai pada ilalang. Mengantarkan cinta ke alamat yang ditujunya.
Kau bahkan akan menemukan aku di sana, menjadi yang paling bahagia menyambut
dua belas di bulan November.
Selamat
ulang tahun. Aku merindukanmu. Sangat. Sungguh. Benar-benar.
November
2015,
Kekasihmu.

0 Comments:
Post a Comment