"Apakah ada yang lebih berbahaya dari jatuh cinta dengan seorang penulis?” Aku jadi
bergidik mendengar pertanyaannya itu. Bah! Dipikirnya penulis itu penipu apa?
Aku
masih melihat Dim menggenggam buku lusuh pemberian masa lampau itu.
“Lagi-lagi
dongeng basi tentang hati,” sahutku.
Aku
masih menyelonjorkan kaki di atas sofa, menyelimuti dingin kakiku dengan
selimut paling hangat yang kupunya sambil sesekali mengomentari acara tv dan
pertanyaan-pertanyaan Dim yang “sudah lupakanlah saja.”
Aku
jadi teringat dengan cerita seorang teman yang awalnya kukenal dari sebuah
media sosial. Dia suka memotret. Apa saja. Dan aku suka bertanya. Apa saja. “Laut
ini begitu lengang, menyediakan lengan paling menenangkan. Mengajarkan
ketabahan yang harus diluaskan. Kau tahu? Ia selalu tahu kemana rindu-rindu
harus diantarkan pulang. Ia selalu ada, tanpa banyak berkata-kata.”
Hmm...
rindu-rindu ya... memang ada berapa banyak macam rindu. Ah, mungkin rindu juga
seperti halnya pesan. Ada yang berbalas, ada yang tidak. Ada yang diabaikan,
ada yang tidak. Ada yang disimpan, ada
yang dibuang. Ada yang diutamakan, ada yang... Ah, jadi rindu yang mana yang ia
maksudkan?
Aku
bahkan sudah lupa sejak kapan aku jadi lebih suka memerhatikan caption daripada hasil jepretannya. Aku
bahkan tidak menemukan alasan paling masuk akal tentang kenapa aku jadi suka
berbagi cerita kepadanya? Ia mungkin juga tidak pernah menduga tentang kenapa
aku sangat membenci kisah cinta?
***
Aku
mengenal Dim di sebuah seminar kepenulisan. Lelaki itu betubuh tinggi seperti
atlet basket, berambut gondrong, berkulit sawo matang dengan wajah agak manis. Ia
duduk di sebelahku dan menanyai namaku tanpa mengajakku bercakap-cakap lagi
setelah itu.
Ia
memakai kemeja kotak abu-abu. Membawa tas ransel abu-abu dan mengeluarkan buku
catatan abu-abu. “Mungkin abu-abu adalah warna kesukaannya,” pikirku tanpa ada
secuil keinginan pun untuk lebih jauh bertanya. Buat apa?
Tetapi
menurutku Dim lelaki yang serius dan cukup misterius. Ya, tidak bisa dipungkiri
aku jadi sering memerhatikannya, lebih tepatnya memerhatikan caranya menyimak
dan mencatat. Sampai tiba pada sesi pertanyaan, aku jadi menyimak caranya
bicara dan mencatat apa yang dipertanyakannya. “Ia lumayan pintar,” kali ini
aku mulai kesal. Buat apa aku terus memerhatikan sekaligus mengomentarinya.
***
Di
perpustakaan. Tempat paling nyaman yang pernah aku temukan di kota ini sehingga
aku tidak hanya mengunjunginya saat aku butuh saja, tidak seperti mereka-mereka
yang mengaku teman itu. Tetapi bukan berarti aku tidak mempunyai teman yang
tulus. Ah, aku hanya terlalu pintar membedakan.
Aku
tidak memiliki tempat duduk kesukaan. Aku duduk sesukaku. Tetapi aku sering
menyempatkan waktu singgah mengitari rak-rak sastra. Aku tidak tahu sejak kapan
aku jadi menyukai puisi, apakah sejak membaca tulisan Sapardi atau Hasan
Aspahani.
Hei! Apakah kau pernah menuliskan
aku sebagai puisi?puisi yang begitu nganga, padahal musim sudah berbunga.
“Aku pelukis, bukan penulis,”
katamu suatu ketika.
Aku mulai tertawa sejadi-jadinya.
Apa bedanya? Apa salahnya?
Di
sebuah bangku di dekat pintu, aku melihat lelaki abu-abu berambut gondrong itu
mengamatiku.
“Tatapannya jernih seperti laut,
seperti langit, seperti awan, seperti hujan, seperti...”
Aku
pura-pura tak mengerti telah diamatinya sedari tadi.
***
Daun layu, menyengat waktu dan
secanting malammu mencelupkan percikan haru. Sementara aku, warna kayu dan
selusin buku gambar berwarna ungu itu, menyimak keresahan telepon genggam yang
kautekan, berulang-ulang.
...
Oktober,
2015.
@rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment