Monday, 2 November 2015

Waktu yang Paling Jujur (1)

"Apakah ada yang lebih berbahaya dari jatuh cinta dengan seorang penulis?” Aku jadi bergidik mendengar pertanyaannya itu. Bah! Dipikirnya penulis itu penipu apa?
Aku masih melihat Dim menggenggam buku lusuh pemberian masa lampau itu.
“Lagi-lagi dongeng basi tentang hati,” sahutku.
Aku masih menyelonjorkan kaki di atas sofa, menyelimuti dingin kakiku dengan selimut paling hangat yang kupunya sambil sesekali mengomentari acara tv dan pertanyaan-pertanyaan Dim yang “sudah lupakanlah saja.”
Aku jadi teringat dengan cerita seorang teman yang awalnya kukenal dari sebuah media sosial. Dia suka memotret. Apa saja. Dan aku suka bertanya. Apa saja. “Laut ini begitu lengang, menyediakan lengan paling menenangkan. Mengajarkan ketabahan yang harus diluaskan. Kau tahu? Ia selalu tahu kemana rindu-rindu harus diantarkan pulang. Ia selalu ada, tanpa banyak berkata-kata.”
Hmm... rindu-rindu ya... memang ada berapa banyak macam rindu. Ah, mungkin rindu juga seperti halnya pesan. Ada yang berbalas, ada yang tidak. Ada yang diabaikan, ada yang tidak.  Ada yang disimpan, ada yang dibuang. Ada yang diutamakan, ada yang... Ah, jadi rindu yang mana yang ia maksudkan?
Aku bahkan sudah lupa sejak kapan aku jadi lebih suka memerhatikan caption daripada hasil jepretannya. Aku bahkan tidak menemukan alasan paling masuk akal tentang kenapa aku jadi suka berbagi cerita kepadanya? Ia mungkin juga tidak pernah menduga tentang kenapa aku sangat membenci kisah cinta?
***
Aku mengenal Dim di sebuah seminar kepenulisan. Lelaki itu betubuh tinggi seperti atlet basket, berambut gondrong, berkulit sawo matang dengan wajah agak manis. Ia duduk di sebelahku dan menanyai namaku tanpa mengajakku bercakap-cakap lagi setelah itu.
Ia memakai kemeja kotak abu-abu. Membawa tas ransel abu-abu dan mengeluarkan buku catatan abu-abu. “Mungkin abu-abu adalah warna kesukaannya,” pikirku tanpa ada secuil keinginan pun untuk lebih jauh bertanya. Buat apa?
Tetapi menurutku Dim lelaki yang serius dan cukup misterius. Ya, tidak bisa dipungkiri aku jadi sering memerhatikannya, lebih tepatnya memerhatikan caranya menyimak dan mencatat. Sampai tiba pada sesi pertanyaan, aku jadi menyimak caranya bicara dan mencatat apa yang dipertanyakannya. “Ia lumayan pintar,” kali ini aku mulai kesal. Buat apa aku terus memerhatikan sekaligus mengomentarinya.
***
Di perpustakaan. Tempat paling nyaman yang pernah aku temukan di kota ini sehingga aku tidak hanya mengunjunginya saat aku butuh saja, tidak seperti mereka-mereka yang mengaku teman itu. Tetapi bukan berarti aku tidak mempunyai teman yang tulus. Ah, aku hanya terlalu pintar membedakan.
Aku tidak memiliki tempat duduk kesukaan. Aku duduk sesukaku. Tetapi aku sering menyempatkan waktu singgah mengitari rak-rak sastra. Aku tidak tahu sejak kapan aku jadi menyukai puisi, apakah sejak membaca tulisan Sapardi atau Hasan Aspahani.
Hei! Apakah kau pernah menuliskan aku sebagai puisi?puisi yang begitu nganga, padahal musim sudah berbunga.
“Aku pelukis, bukan penulis,” katamu suatu ketika.
Aku mulai tertawa sejadi-jadinya. Apa bedanya? Apa salahnya?
Di sebuah bangku di dekat pintu, aku melihat lelaki abu-abu berambut gondrong itu mengamatiku.
“Tatapannya jernih seperti laut, seperti langit, seperti awan, seperti hujan, seperti...”
Aku pura-pura tak mengerti telah diamatinya sedari tadi.
***
Daun layu, menyengat waktu dan secanting malammu mencelupkan percikan haru. Sementara aku, warna kayu dan selusin buku gambar berwarna ungu itu, menyimak keresahan telepon genggam yang kautekan, berulang-ulang.
...
Oktober, 2015.
@rintikkecil

0 Comments: