Puisi kolaborasi saya (@rintikkecil)
dengan seorang teman, Arief Budi Wahyono (@AriefBudiW_)
Pada senja yang tak kurencana, serumpun
aksara tanggal di rindu yang jauh. Sekisah kasih menjenguk yang lalu, yang
bersemayam di balik jejak sajak-sajakku. “Sudah
relakah engkau menepikan air mata?” tanyamu menyapa.
Senja semakin dekat ketika sekujur
hangat meresap di laut ingatanku. Dari sudut mataku, hujan menuang resah,
memangku lelah begitu tabah. Itulah sebabnya, luka tak pernah sepi, tak pernah
lupa disinggahi.
“Kita
adalah sepasang kehilangan yang salah arah pulang,”
kamu menyimpulkan. Padahal sangat bukan. “Sebab,
setiap aku berkaca pada matamu. Selalu saja, aku melihat diriku terpantul di
sana.” Tetapi pergi terlanjur memecah sunyi, memilih
sendiri-sendiri. Pelukku, pelukmu (tak) kembali lagi.
Segelintir senyum menembang kenang dan
air mata menjadi pelengkap kehilangan. Di sederet huruf yang merangkai namamu,
aku masih berusaha mengeja luka yang bahagia, bahagia yang begitu luka.
Usahlah menyalahkan sesiapa yang paling terluka
di antara kita. "Kenangan, cukup
sesekali ia diziarahi, tak perlu ada yang ikut mengubur diri," bisikku,
kepada sunyi.
Pembacaan
puisi ini bisa didengarkan di :

