Friday, 29 November 2013

Langit Kenang



Puisi kolaborasi saya (@rintikkecil) dengan seorang teman, Arief Budi Wahyono (@AriefBudiW_)




Pada senja yang tak kurencana, serumpun aksara tanggal di rindu yang jauh. Sekisah kasih menjenguk yang lalu, yang bersemayam di balik jejak sajak-sajakku. “Sudah relakah engkau menepikan air mata?” tanyamu menyapa.

Senja semakin dekat ketika sekujur hangat meresap di laut ingatanku. Dari sudut mataku, hujan menuang resah, memangku lelah begitu tabah. Itulah sebabnya, luka tak pernah sepi, tak pernah lupa disinggahi.

“Kita adalah sepasang kehilangan yang salah arah pulang,” kamu menyimpulkan. Padahal sangat bukan. “Sebab, setiap aku berkaca pada matamu. Selalu saja, aku melihat diriku terpantul di sana.Tetapi pergi terlanjur memecah sunyi, memilih sendiri-sendiri. Pelukku, pelukmu (tak) kembali lagi.

Segelintir senyum menembang kenang dan air mata menjadi pelengkap kehilangan. Di sederet huruf yang merangkai namamu, aku masih berusaha mengeja luka yang bahagia, bahagia yang begitu luka.

Usahlah menyalahkan sesiapa yang paling terluka di antara kita. "Kenangan, cukup sesekali ia diziarahi, tak perlu ada yang ikut mengubur diri," bisikku, kepada sunyi.


Pembacaan puisi ini bisa didengarkan di :

 

Sunday, 17 November 2013

Hujan Di Ingatan


Seperti berada di rute menuju teduh matamu, seperti menghafal alur sebuah kisah yang ditulis waktu. Aku mencarimu. Tersebab keresahan tak mau pergi. Melonjak-lonjak di larik-larik puisi.

Seperti awan yang bercengkerama dengan bulan. Seperti senja yang berada di depan jendela, memandang rindu. Aku menemukanmu. Dalam serumpun aksara bernama doa. Sebelum kemudian: ada yang linang di hari yang hujan. Segelintir kenangan dan namamu dalam ingatan.

Malang, 11 November 2013
@rintikkecil