:
kepada daun yang jatuh lalu mengering
Kubiarkan
angin menerbangkanmu, setangkup pesan yang tak mudah menjejaki arti; diam yang
teka-teki. Barangkali tajam ingatan adalah penuntun bagi waktu yang ramu makna.
Pada belasan purnama yang dekap tanya. Tentang gamang yang ingin dimengerti
langit jauh. Juga tentang ketidakpastian yang membilang ayal.
Di
bangku tua ini, imaji berguguran. Rona senja lindap di bahu gelap. “Kaukah
cahaya?” tanyamu dari ujung sana. “Bukan! Aku adalah bunga yang tak takut
lapuk. Maka akan kujadikan kau musim yang tak mengenalkan akhir.”
Karena
setiap akhir adalah mula. Dan sebermula adalah gembira yang akan kita bagi, di
sebuah hari yang telah kita nanti.
Dari
aku yang sedang belajar memahamimu, 04 September 2014
@rintikkecil
