: Gilang Perdana
Pada
sebuah pagi, ada selaksa haru yang labuh. Memeluk gaduh sebaris kalimat yang kaubangun
dengan segenap sungguh. Seperti mengemasi sisa hujan di atap-atap yang
berkarat, kau riuh. Menarikku berdansa bersama kata yang tak sekadar kata-kata;
yang jelma kita.
Kau,
pemilik kata yang terangkai teduh itu. Dalam bingkaimu, aku menemukan musim
yang rekah, yang menghamburkan rona merah jambu. Di sana puisi menyalakan
rindu, dalam sepotong temu yang paling ditunggu. "Satu-satunya alamat yang akan
kutangkap nanti adalah binar matamu, yang pendarnya mampu menulis bacakan aku."
Pada
sebuah ingin yang begitu sederhana. Larik-larik tentangmu memekik liris serupa
gerimis. Lalu kau-aku berpelukan di bawah hujan, di beranda rumah; kita.
Sungguh!
Terberkatilah semesta, atas segala alur yang luar biasa.
Malang,
07 Maret 2014 (06:45)
