Wednesday, 12 March 2014

Pada Sebuah Pagi

: Gilang Perdana

Pada sebuah pagi, ada selaksa haru yang labuh. Memeluk gaduh sebaris kalimat yang kaubangun dengan segenap sungguh. Seperti mengemasi sisa hujan di atap-atap yang berkarat, kau riuh. Menarikku berdansa bersama kata yang tak sekadar kata-kata; yang jelma kita.

Kau, pemilik kata yang terangkai teduh itu. Dalam bingkaimu, aku menemukan musim yang rekah, yang menghamburkan rona merah jambu. Di sana puisi menyalakan rindu, dalam sepotong temu yang paling ditunggu. "Satu-satunya alamat yang akan kutangkap nanti adalah binar matamu, yang pendarnya mampu menulis bacakan aku."

Pada sebuah ingin yang begitu sederhana. Larik-larik tentangmu memekik liris serupa gerimis. Lalu kau-aku berpelukan di bawah hujan, di beranda rumah; kita.

Sungguh! Terberkatilah semesta, atas segala alur yang luar biasa.


Malang, 07 Maret 2014 (06:45)

0 Comments: