: Gilang Perdana
Di
pelataran tempo hari, kudapati deru itu
mengaduk berhelai kata yang lapuk. Serupa resah yang dentum, di sulur-sulur
langit ingatanmu. Sesaat, ketika sejumput sesak mengepul isak, merunut lalu
yang melayang sampai ke permukaan matamu. Di bawah kelabu, jemu yang terlalu,
kenang yang lirih mengepak perih.
Jauh
mengangin, sendu malam di kabut tak terjangkau itu. Kubaca berbaris elegi yang
ditulis rapi, untuk sebuah nama yang mengarungi berbilang rindu. Di segala tak
ingin yang menertawai satu hari, yang menyibakkan pendar-pendar lara. Seperti
cahaya kecil yang redup dari binar matamu, yang diam-diam gugur bersama daun. Sesaat,
ketika ada yang merintik pelan-pelan di secangkir kopimu yang sudah mulai
dingin itu.
“Hujan,”
katamu. Itu aku yang mencoba menabrak kaca jendelamu. Menari berputar bersama angin
yang ingin, menyampaikan sebuah pesan yang semoga tak akan terlambat datang. “Tersenyumlah.
Berbahagialah.”
Untuk
kau-aku yang sama-sama percaya selalu ada yang dipersiapkan lebih baik,
Malang,
26 Februari 2014 (20: 22)
Semangat
menyambut kepulangan esok ke kotamu, Solo.
Salamku,
@rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment