Wednesday, 26 February 2014

Di Pelataran Tempo Hari

: Gilang Perdana

Di pelataran tempo hari, kudapati deru itu mengaduk berhelai kata yang lapuk. Serupa resah yang dentum, di sulur-sulur langit ingatanmu. Sesaat, ketika sejumput sesak mengepul isak, merunut lalu yang melayang sampai ke permukaan matamu. Di bawah kelabu, jemu yang terlalu, kenang yang lirih mengepak perih.

Jauh mengangin, sendu malam di kabut tak terjangkau itu. Kubaca berbaris elegi yang ditulis rapi, untuk sebuah nama yang mengarungi berbilang rindu. Di segala tak ingin yang menertawai satu hari, yang menyibakkan pendar-pendar lara. Seperti cahaya kecil yang redup dari binar matamu, yang diam-diam gugur bersama daun. Sesaat, ketika ada yang merintik pelan-pelan di secangkir kopimu yang sudah mulai dingin itu.

“Hujan,” katamu. Itu aku yang mencoba menabrak kaca jendelamu. Menari berputar bersama angin yang ingin, menyampaikan sebuah pesan yang semoga tak akan terlambat datang. “Tersenyumlah. Berbahagialah.”

Untuk kau-aku yang sama-sama percaya selalu ada yang dipersiapkan lebih baik,
Malang, 26 Februari 2014 (20: 22)

Semangat menyambut kepulangan esok ke kotamu, Solo.

Salamku,
@rintikkecil

0 Comments: