Wednesday, 19 February 2014

Sepucuk Surat Rindu

Di sebaris kata pisah, ada yang lebih resah.

Sepucuk surat rindu, yang tak pernah sampai ke tanganmu.


Rindu, anggap saja namamu begitu. Kemarin sore hujan di kotaku sangat deras sekali. Seperti biasanya aku bandel. Aku pergi lupa membawa payung. Aku tidak punya cukup waktu untuk lama-lama menunggu hujan reda. Seperti biasanya pula aku menerjang hujan. Tenanglah, aku sudah bersahabat lama dengan hujan. Jadi kamu tidak usah perlu lagi mengkhawatirkanku karena terkena flu.

Aku yang sekarang sudah cukup mandiri untuk mengerti apa yang harus kulakukan. Seperti kata-katamu dulu, aku harus selalu punya stock banyak obat flu di rumah. Sehingga aku tidak perlu bingung ketika sewaktu-waktu aku membutuhkannya. Apalagi saat tengah malam. Masih ingat pukul 2 malam itu? Malam dimana aku kalang kabut menelponmu hanya sekadar untuk bilang. “Aku butuh obat flu dan segelas air hangat.” Aku meneleponmu karena kupikir cuma kamu yang bisa menenangkan aku. Kalau sekarang? Tentu aku tidak punya alasan lagi untuk meneleponmu jam segitu. Ah, sudahlah!

Aku pernah sebal karena hujan kerap membuatku flu. Tetapi saat ini aku sedang lebih sebal. Tahu kenapa? Aku cemburu. I’m jealous of the rain that can running down and touch your hand early. 

Demi apapun, jangan anggap ini surat cinta. Ini hanyalah surat rindu, yang tak akan pernah sampai kepadamu.

Kotaku yang sedang hujan, Februari 2014.

0 Comments: