Di
sebaris kata pisah, ada yang lebih resah.
Sepucuk
surat rindu, yang tak pernah sampai ke tanganmu.
Rindu,
anggap saja namamu begitu. Kemarin sore hujan di kotaku sangat deras sekali.
Seperti biasanya aku bandel. Aku pergi lupa membawa payung. Aku tidak punya
cukup waktu untuk lama-lama menunggu hujan reda. Seperti biasanya pula aku
menerjang hujan. Tenanglah, aku sudah bersahabat lama dengan hujan. Jadi kamu
tidak usah perlu lagi mengkhawatirkanku karena terkena flu.
Aku
yang sekarang sudah cukup mandiri untuk mengerti apa yang harus kulakukan.
Seperti kata-katamu dulu, aku harus selalu punya stock banyak obat flu di
rumah. Sehingga aku tidak perlu bingung ketika sewaktu-waktu aku
membutuhkannya. Apalagi saat tengah malam. Masih ingat pukul 2 malam itu? Malam
dimana aku kalang kabut menelponmu hanya sekadar untuk bilang. “Aku butuh obat
flu dan segelas air hangat.” Aku meneleponmu karena kupikir cuma kamu yang bisa
menenangkan aku. Kalau sekarang? Tentu aku tidak punya alasan lagi untuk
meneleponmu jam segitu. Ah,
sudahlah!
Aku pernah sebal karena hujan kerap membuatku flu. Tetapi saat ini aku sedang lebih sebal. Tahu kenapa? Aku cemburu. I’m jealous of the rain that can running down and touch your hand early.
Demi apapun, jangan anggap ini surat cinta. Ini hanyalah surat rindu, yang tak akan pernah sampai kepadamu.
Kotaku yang sedang hujan, Februari 2014.

0 Comments:
Post a Comment