Kepulan asap membumbung
melampaui awan, pinggir payung, dan siluet senja. Pekat warnanya tumpah pada
kanvas berlukiskan rerintik dingin. Buih berlapis buram, aroma menyesap hujan,
pun kira-kira secangkir harum cahaya, akankah menyihir langitmu yang mulai
sempal dan mengaduh di antara sepasang sepatu tua? Seperempat jam kemudian
angin menyelusup menerobos hangat uap yang menerpa paras ayumu. Di antara
hening, lilin dan kening, terciptalah perbincangan mesra, perihal ramuan dan
rahasia.
Dari balik jendela kaca, daya pikat erotismu mengapungkan sepatah dua patah kata gugur daun. Seraut senyum lebur: menyisip di sela-sela ranting pohon waru. Ada setangkai getar yang menyisir sejumput sepi malam ini. Temparaturnya mengikuti ritme serbuk hitam yang sedang diaduk itu. “Mari, kuisi cangkirmu yang kosong.”
Semusim lalu, saat pertama kali aku jatuh cinta kepadamu, saat wajahmu tercetak kayu manis, saat tatapmu memikat bar saji, juga saat rayumu menyorongkan cappuccino, cafe latte, sampai kopi tubruk. Sampai cangkirku retak, sampai pagiku sesak, sampai langitku tak tertebak, sampai capung-capung terbahak. Pun sampai habis batas sampai. Dan irama musik blues terus berdetak. Mau bagaimana lagi, “Aku terlanjur mencintaimu.”


0 Comments:
Post a Comment