Monday, 3 February 2014

Dongeng Basi Tentang Hati

Dari tempatku menulis surat ini buat kamu,

Ketika surat ini sampai ke tanganmu, aku ingin kamu membaca surat ini dengan aturan pertama tarik napas panjang dan kedua bayangkanlah aku sedang menyeruput kopi. Aku tahu kamu pasti akan menertawakanku habis-habisan. Tawa yang lebih lebar dibandingkan dengan saat pertama kali kamu mengetahui fakta bahwa aku tidak bisa minum kopi. Kamu menertawakanku seakan akulah satu-satunya perempuan di dunia ini yang tidak bisa minum kopi. Huh, aku sangat sebal sekali!

Ketahuilah, kali ini akan kuturunkan egoku sedikit. Satu level saja. Hanya untuk membuat sebuah pengakuan. Iya, aku ingin mengaku bahwa aku menyukai namamu. Itulah mengapa aku sangat suka sekali menjadikan namamu dalam cerita-certia pendek yang aku tulis. Hahaha bukan! Bukan itu sebenarnya pengakuan yang ingin kubuat. Sebenarnya aku takut kehilangan kamu! Kamu bisa dengar itu? Tolong jangan berhenti membaca. Aku ingin kamu membaca surat ini sampai selesai. Baiklah minumlah kopimu terlebih dahulu. Kamu masih suka melukis hujan? Jadi apa warnanya?

Ketahuilah, saat ini aku juga masih suka marah-marah ketika aku tidak bisa mengendalikan hal-hal yang kusebut menyulitkan keadaan. Keadaan yang tidak bisa kukendalikan. Dan kamu selalu jadi orang pertama yang akan kutelepon untuk  kumintai bantuan. Untuk mendengarkanku mengomel berjam-jam. Mengomel ketika bulpenku hilang. Mengomel ketika ban sepedaku bocor. Mengomel ketika aku lupa menaruh kunci rumah. Mengomel karena banyak hal-hal lain yang tidak kuingini tetapi tetap saja terjadi. Kamu sebut aku cerewet. Kamu sebut aku tidak bisa diandalkan. Benar. Adakah yang bisa diandalkan dari perempuan yang cerewet, pelupa dan pemarah ini? Tetapi di depanmu aku tidak perlu menjadi yang lain. Aku cukup. Aku lengkap. Menjadi diriku sendiri.

Ketahuilah, aku ingin menanyakan satu hal penting dari yang paling penting dengan raut wajah paling tidak menggemaskan. Aku begitu penasaran bagaimana caramu bertahan menghadapi perempuan seperti aku? Perempuan yang selama ini sering menyusahkanmu. Perempuan yang akan semalaman suntuk bercerita tentang dongeng basi tentang hati. Tentang pangeran berpayung yang datang dari negeri hujan. Atau tentang penyihir gigil yang punya ladang paku. Perempuan yang tidak juga paham bagaimana membatasi khayalan meski kita sudah banyak belajar tentang teori, konsep dan paradigma.

Dan pada akhirnya,
I’ve keep too much raindrops in my hand. As if you never knew, I still can’t find even a reason to let you go. Could you show me, where it starts and where it ends? Let me hear your every whisper and create together magic through heart.

So in love,
- @rintikkecil

0 Comments: