Dari tempatku menulis surat ini buat kamu,
Ketika
surat ini sampai ke tanganmu, aku ingin kamu membaca surat ini dengan aturan
pertama tarik napas panjang dan kedua bayangkanlah aku sedang menyeruput kopi.
Aku tahu kamu pasti akan menertawakanku habis-habisan. Tawa yang lebih lebar
dibandingkan dengan saat pertama kali kamu mengetahui fakta bahwa aku tidak
bisa minum kopi. Kamu menertawakanku seakan akulah satu-satunya perempuan di
dunia ini yang tidak bisa minum kopi. Huh, aku sangat sebal sekali!
Ketahuilah,
kali ini akan kuturunkan egoku sedikit. Satu level saja. Hanya untuk membuat
sebuah pengakuan. Iya, aku ingin mengaku bahwa aku menyukai namamu. Itulah
mengapa aku sangat suka sekali menjadikan namamu dalam cerita-certia pendek
yang aku tulis. Hahaha bukan! Bukan itu sebenarnya pengakuan yang ingin kubuat.
Sebenarnya aku takut kehilangan kamu! Kamu bisa dengar itu? Tolong jangan
berhenti membaca. Aku ingin kamu membaca surat ini sampai selesai. Baiklah
minumlah kopimu terlebih dahulu. Kamu masih suka melukis hujan? Jadi apa
warnanya?
Ketahuilah,
saat ini aku juga masih suka marah-marah ketika aku tidak bisa mengendalikan
hal-hal yang kusebut menyulitkan keadaan. Keadaan yang tidak bisa kukendalikan.
Dan kamu selalu jadi orang pertama yang akan kutelepon untuk kumintai bantuan. Untuk mendengarkanku
mengomel berjam-jam. Mengomel ketika bulpenku hilang. Mengomel ketika ban sepedaku
bocor. Mengomel ketika aku lupa menaruh kunci rumah. Mengomel karena banyak
hal-hal lain yang tidak kuingini tetapi tetap saja terjadi. Kamu sebut aku
cerewet. Kamu sebut aku tidak bisa diandalkan. Benar. Adakah yang bisa
diandalkan dari perempuan yang cerewet, pelupa dan pemarah ini? Tetapi di
depanmu aku tidak perlu menjadi yang lain. Aku cukup. Aku lengkap. Menjadi
diriku sendiri.
Ketahuilah,
aku ingin menanyakan satu hal penting dari yang paling penting dengan raut
wajah paling tidak menggemaskan. Aku begitu penasaran bagaimana caramu bertahan
menghadapi perempuan seperti aku? Perempuan yang selama ini sering
menyusahkanmu. Perempuan yang akan semalaman suntuk bercerita tentang dongeng
basi tentang hati. Tentang pangeran berpayung yang datang dari negeri hujan. Atau
tentang penyihir gigil yang punya ladang paku. Perempuan yang tidak juga paham
bagaimana membatasi khayalan meski kita sudah banyak belajar tentang teori,
konsep dan paradigma.
Dan
pada akhirnya,
I’ve keep too much raindrops in my
hand. As if you never knew, I still can’t find even a reason to let you go.
Could you show me, where it starts and where it ends? Let me hear your every
whisper and create together magic through heart.
So in love,
- @rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment