Monday, 17 February 2014

Surat Untuk Teman Masa Kecil

Kepada Sandi,

Wara adalah nama belakang yang kuberikan kepadamu. Masih suka marah-marah jika kupanggil begitu? “Aku ini bukan pemain sandiwara, Ra.” Kamu mengelak dengan memasang wajah paling tidak lucu. Hahaha jujur ada banyak sekali hal yang kukagumi dari dirimu San, terutama ekspresi wajahmu yang tidak bisa menyembunyikan apa yang sedang kamu rasakan (atas apapun). Caramu menyikapi sesuatu, juga hal-hal ajaib yang sering tidak kamu sadari (rupanya mampu membuatku tertawa). 

Menulis surat adalah sebuah ritual. Kamu menyebutnya begitu. Di balik parasmu yang pendiam dan tidak banyak omong itu, ternyata kamu mahir sekali meracik kata. Sebuah kejutan lain dari dirimu. Perempuan berisik. Aku tidak percaya kamu bisa memanggilku dengan sebutan seperti itu. Berisik dengan suka berbicara cepat tentu berbeda Sandi :p


Sekarang teknologi sudah berkembang dengan pesat. Jaringan internet tentu saja dapat lebih mudah menghubungkan kita untuk berkomunikasi dan berbagi cerita. Mengetik email lalu send. Sepersekian detik kemudian pasti suratku ini sudah akan sampai kepadamu. Tetapi itu tidak berlaku bagi kita ya. Semenjak kita berpisah, kita belum mengenal itu semua. Kamu pindah dan tidak mengabariku alamat rumah, nomor telephone ataupun alamat email. Suratku? Tentu menjadi surat-surat yang tidak pernah sampai.


Sekarang kamu pasti sudah menjadi tukang cerita yang hebat San. Tukang cerita yang tidak lagi bersembunyi di balik surat saja. Seperti cita-citamu dulu untuk menjadi pembicara yang baik di depan publik. Rindu rasanya menjadi pembaca sekaligus pendengar cerita-ceritamu.



Dari teman masa kecilmu,

Perempuan berisik.


0 Comments: