Kepada
Sandi,
Wara
adalah nama belakang yang kuberikan kepadamu. Masih suka marah-marah jika
kupanggil begitu? “Aku ini bukan pemain sandiwara, Ra.” Kamu mengelak dengan
memasang wajah paling tidak lucu. Hahaha jujur ada banyak sekali hal yang
kukagumi dari dirimu San, terutama ekspresi wajahmu yang tidak bisa
menyembunyikan apa yang sedang kamu rasakan (atas apapun). Caramu menyikapi
sesuatu, juga hal-hal ajaib yang sering tidak kamu
sadari (rupanya mampu membuatku tertawa).
Menulis surat adalah sebuah ritual. Kamu
menyebutnya begitu. Di balik parasmu yang pendiam dan tidak banyak omong itu,
ternyata kamu mahir sekali meracik kata. Sebuah kejutan lain dari dirimu. Perempuan
berisik. Aku tidak percaya kamu bisa memanggilku dengan sebutan seperti itu.
Berisik dengan suka berbicara cepat tentu berbeda Sandi :p
Sekarang
teknologi sudah berkembang dengan pesat. Jaringan internet
tentu saja dapat lebih mudah menghubungkan kita untuk berkomunikasi dan berbagi
cerita. Mengetik email lalu send. Sepersekian detik kemudian pasti suratku ini
sudah akan sampai kepadamu. Tetapi itu tidak berlaku bagi kita ya. Semenjak
kita berpisah, kita belum mengenal itu semua. Kamu pindah dan tidak mengabariku
alamat rumah, nomor telephone ataupun alamat email. Suratku? Tentu menjadi
surat-surat yang tidak pernah sampai.
Sekarang
kamu pasti sudah menjadi tukang cerita yang hebat San. Tukang cerita yang tidak
lagi bersembunyi di balik surat saja. Seperti cita-citamu dulu untuk menjadi
pembicara yang baik di depan publik. Rindu rasanya menjadi pembaca sekaligus
pendengar cerita-ceritamu.
Dari
teman masa kecilmu,
Perempuan
berisik.

0 Comments:
Post a Comment