Saturday, 8 February 2014

Aku Sudah Move On. Titik!

Kepada kamu yang ah sudahlah,

Aku menulis surat ini dengan menahan migrain yang teramat mengganggu konsentrasiku. Aku menulis surat ini juga dengan menahan rasa rindu yang teramat sialan itu. Sambil memeluk erat tubuhku yang dijalari dingin yang menusuk kulit, aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku baru saja menonton film "The Vow" lagi di awal Februari ini. Bukan tanpa sebab. Aku hanya ingin menonton film romantis yang bisa membuatku terharu biru. Jadi, bukan untuk ingin menjemputmu dalam janji pernikahan. Jadi awas saja kalau kamu sampai kepedean. Kamu tahu kan semenjak aku kehilangan keahlianku untuk melucu, aku jadi suka marah pada diriku sendiri. Aku benci kehilangan selera humor.


Jujur, aku mengirimkan surat ini bukan tanpa maksud. Baiklah, sebut tulisan ini adalah setara dengan surat protes atau surat pengaduan pelayanan dari pelanggan, yang sengaja ingin kulayangkan kepada kamu. Iya, kamu! Kamu yang saat ini sedang membuatku menjadi pribadi yang terlalu serius. Terlalu serius untuk tidak bisa melupakanmu.


Sampai aku tahu kesintingan mencintaimu ini harus segera dihentikan. Aku ingin alam, teman curhat sampai psikiater yang kudatangi juga bisa bahagia untuk tidak mendengarkan kamu, kamu, dan kamu lagi yang kuceritakan dari bibirku.  Aku merasa bersalah telah membuat dua hati yang lain kecewa karena aku masih tidak bisa move on darimu. And I’ve decided now. I had enough. Bukan karena tidak mencintaimu, tetapi karena cinta tidak bisa diperjuangkan sendirian sayang. ISH. SAYANG? *Abaikanlah*


Kamu berhak bahagia. Akupun begitu. And yes, I deserve to be happy too! Karena aku telah menemukan kembali keyakinan itu. Keyakinan yang kubangun dengan jatuh bangun. Pada akhirnya, ternyata benar bukan? Tidak pernah ada air mata yang mengalir sia-sia. Mulai sekarang, aku siap untuk membuka hati, tanpa perlu takut untuk disakiti (lagi). Aku siap bertemu dengan lelaki yang berani meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Lelaki yang tidak akan pernah lelah untuk membuatku yakin, karena aku butuh untuk terus diyakinin.



Dari perempuan yang katamu tidak pernah perlu memaksakan diri untuk memakai sepatu hak tinggi,

- @rintikkecil

0 Comments: