Kepada
kamu yang ah sudahlah,
Aku
menulis surat ini dengan menahan migrain yang teramat mengganggu konsentrasiku.
Aku menulis surat ini juga dengan menahan rasa rindu yang teramat sialan itu.
Sambil memeluk erat tubuhku yang dijalari dingin yang menusuk kulit, aku ingin
mengatakan sesuatu padamu. Aku baru saja menonton film "The Vow" lagi di awal
Februari ini. Bukan tanpa sebab. Aku hanya ingin menonton film romantis yang
bisa membuatku terharu biru. Jadi, bukan untuk ingin menjemputmu dalam janji
pernikahan. Jadi awas saja kalau kamu sampai kepedean. Kamu tahu kan semenjak
aku kehilangan keahlianku untuk melucu, aku jadi suka marah pada diriku
sendiri. Aku benci kehilangan selera humor.
Jujur,
aku mengirimkan surat ini bukan tanpa maksud. Baiklah, sebut tulisan ini adalah
setara dengan surat protes atau surat pengaduan pelayanan dari pelanggan, yang sengaja
ingin kulayangkan kepada kamu. Iya, kamu! Kamu yang saat ini sedang membuatku
menjadi pribadi yang terlalu serius. Terlalu serius untuk tidak bisa
melupakanmu.
Sampai
aku tahu kesintingan mencintaimu ini harus segera dihentikan. Aku ingin alam, teman
curhat sampai psikiater yang kudatangi juga bisa bahagia untuk tidak
mendengarkan kamu, kamu, dan kamu lagi yang kuceritakan dari bibirku. Aku merasa bersalah telah membuat dua hati
yang lain kecewa karena aku masih tidak bisa move on darimu. And I’ve decided now. I had enough.
Bukan karena tidak mencintaimu, tetapi karena cinta tidak bisa diperjuangkan
sendirian sayang. ISH. SAYANG? *Abaikanlah*
Kamu
berhak bahagia. Akupun begitu. And yes, I
deserve to be happy too! Karena aku telah menemukan kembali keyakinan itu.
Keyakinan yang kubangun dengan jatuh bangun. Pada akhirnya, ternyata benar
bukan? Tidak pernah ada air mata yang mengalir sia-sia. Mulai sekarang, aku
siap untuk membuka hati, tanpa perlu takut untuk disakiti (lagi). Aku siap
bertemu dengan lelaki yang berani meyakinkan diriku bahwa semuanya akan
baik-baik saja. Lelaki yang tidak akan pernah lelah untuk membuatku yakin,
karena aku butuh untuk terus diyakinin.
Dari
perempuan yang katamu tidak pernah perlu memaksakan diri untuk memakai sepatu
hak tinggi,
- @rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment