Kepada
kamu yang mungkin tidak juga sadar kalau surat ini memang kutujukan untuk kamu,
Hari
ini aku ingin jujur pada diriku sendiri. Akhir-akhir ini aku kerap dilanda
sepi. Rupanya aku rindu untuk kau hadiahi percakapan-percakapan ajaib itu.
Percakapan yang selalu menyambut hangat inginku juga tanganku untuk kembali
menulis. Mungkin cerpen mungkin puisi mungkin juga coretan-coretan yang tidak
jelas kemana arahnya bermuara. “Selamat berkarya,” katamu suatu ketika.
Percayakah
kamu? Bahwa terkadang hal yang paling menyedihkan dalam hidup adalah saat
dimana kita dihadapkan pada situasi seperti ini; tidak bisa meyakinkan diri
sendiri. Kalau tidak bisa yakin pada diri
sendiri, bagaimana bisa meyakinkan orang lain? Aku tidak kenapa-kenapa,
yang artinya aku memang sedang buruk.
Aku
merasa berjarak dengan diriku sendiri untuk alasan yang tidak pernah kuketahui.
Hanya saja begini, bukankah aku pernah bilang bahwa aku menemukan apa yang
kucari terpantul di matamu. Iya, tepat sejak pertemuan pertama kau-aku. Aku
bahkan masih mencatat mesra tanggal pertemuan itu, di ingatanku. Lalu sebuah
konsep pisah itu tiba-tiba saja mengudara. Merebut sisi, menjadi pertanda buruk
yang tidak bisa kucerna dengan baik. Ada sebuah kegetiran yang mendorongku
untuk berontak dan akhirnya membuatku menjadi egois. Aku benci mengatakan ini.
Tetapi
aku ingin pulang. Ke rumahku. Rumah yang paling kurindukan. Rumah yang
menyediakanku secangkir cokelat panas, selimut hangat, dan sepotong cerita yang
dibawa hujan. Cerita yang kemudian sudah berpindah ke lembar ceritamu, yang
menampung aku, yang menungguimu menyelesaikan pekerjaan. Sampai larut, sampai
tertidur, di pelukan.
Jeda.
Aku
dan kamu tidak pernah menjadi kita.
Rumah?
mungkin kamu hanya tempat singgah.
Rumah?
mungkin kamu hanya tempat singgah.
Sekarang
tanyakanlah pertanyaan ini kepadaku. “Adakah
hal yang lebih menyedihkan dari hal yang sebelumnya pernah kau katakan?”
Ternyata ada.
...
Perihal kata yang tak sempat terkatakan. Perihal tanya yang tak sempat tertanyakan.
Perihal kata yang tak sempat terkatakan. Perihal tanya yang tak sempat tertanyakan.
Aku
mencintaimu. Apakah aku jatuh cinta sendirian?
Salam manis,
~ @rintikkecil
Kotaku, 14 Februari 2014 17:00
Kotaku, 14 Februari 2014 17:00

0 Comments:
Post a Comment