Untukmu,
Perihal
luka? Ia memang kerap mengurapi mataku. Maka tidak akan kusalahkan kamu ketika
pertama kali kita bertemu, kamu hanya akan bisa melihat bingkisan kepedihan di
kedalaman sana. Katamu, “untuk apa
merawat luka yang hanya bisa membuat matamu selalu hujan?” Detik itu juga,
aku berpikir. Lama. Tetapi aku tak kunjung juga menemukan apa-apa. Apalagi
jawaban.
Haruskah
aku
mulai terbiasa menggantung pura-pura di atas hujan yang rinai?
Atau
aku
saja yang mungkin terlalu takut terkena kuyup?
Dengarlah, aku ini rintik kecil yang pecah di wajah musim yang kering. Menerobos pekatnya kabut malam. Di antara rintik-rintik yang lain. Sampai aku terperangkap dalam gelap. Dalam getir yang bertubi-tubi menyerang. Hingga sampailah aku di titik itu. Di tempat dimana aku dengan sekuat tenaga berperang dengan dingin. (Sendirian). Dingin yang merambat sampai ke ubun-ubun. Dingin yang melinukan tubuh kenangan. Dingin yang membuatku sampai lupa apa itu warna, apa itu kehangatan.
Apakah kau angin yang akan menerbangkan dingin yang merembes ke hatiku?
Aku sibuk menunggu. Menunggu tanpa pernah tahu seberapa lama aku harus menunggu. Menunggu untuk diamati. Menunggu untuk dijemput. Menunggu yang hanya sepi, yang mengerikiti ilusi.
...
Sampai
aku bertemu, kamu.
~
Yang sedang menyembuhkan lukanya sendiri,
@rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment