Thursday, 13 February 2014

Air Mata Di Bawah Bantal

Untukmu,

Perihal luka? Ia memang kerap mengurapi mataku. Maka tidak akan kusalahkan kamu ketika pertama kali kita bertemu, kamu hanya akan bisa melihat bingkisan kepedihan di kedalaman sana. Katamu, “untuk apa merawat luka yang hanya bisa membuat matamu selalu hujan?” Detik itu juga, aku berpikir. Lama. Tetapi aku tak kunjung juga menemukan apa-apa. Apalagi jawaban. 

Haruskah aku mulai terbiasa menggantung pura-pura di atas hujan yang rinai?
Atau aku saja yang mungkin terlalu takut terkena kuyup?

Dengarlah, aku ini rintik kecil yang pecah di wajah musim yang kering. Menerobos pekatnya kabut malam. Di antara rintik-rintik yang lain. Sampai aku terperangkap dalam gelap. Dalam getir yang bertubi-tubi menyerang. Hingga sampailah aku di titik itu. Di tempat dimana aku dengan sekuat tenaga berperang dengan dingin. (Sendirian). Dingin yang merambat sampai ke ubun-ubun. Dingin yang melinukan tubuh kenangan. Dingin yang membuatku sampai lupa apa itu warna, apa itu kehangatan.

Apakah kau angin yang akan menerbangkan dingin yang merembes ke hatiku?

Aku sibuk menunggu. Menunggu tanpa pernah tahu seberapa lama aku harus menunggu. Menunggu untuk diamati. Menunggu untuk dijemput. Menunggu yang hanya sepi, yang mengerikiti ilusi.

...
Sampai aku bertemu, kamu.

~ Yang sedang menyembuhkan lukanya sendiri,
@rintikkecil

0 Comments: