Untuk
Mama yang selalu menyelipkan namaku dalam setiap baris-baris doa. Aku
mencintaimu...
Mungkin
aku bisa menyembunyikan kenyataan bahwa “aku sedang merasa buruk” kepada
orang-orang lain dengan keceriaanku. Tetapi aku tahu aku tidak akan pernah bisa
melakukan itu semua di depan Mama. Seperti halnya kata, Mama selalu berhasil
membaca resah yang tertulis di mataku. Seperti halnya waktu, Mama selalu
mengajarkan kepadaku tentang begitu banyak hal tentang makna hidup. Juga seperti halnya
hujan, kataku-kataku bisa begitu saja menderas menceritakan segala yang aku
rasakan. Tanpa perlu panduan. Tanpa perlu aba-aba.
Di pelukan dan pangkuan Mama
aku selalu menemukan tempatku pulang, melepas segala lelah. Mama, tentu saja
kau adalah perempuan terhebat dalam hidupku. Seriously, there is no other beautiful words except, thank you! Thank
you for everything you gave to me. Terima kasih telah menjadi sahabat,
kakak, ibu sekaligus ayah untukku. Aku mengerti, menjadi single parent tentu sangat tidak mudah
bagimu. Aku masih begitu ingat saat aku masih begitu nakal dan seringkali
membuatmu marah karena beberapa hal. Termasuk kemarahanku tentang keadaan.
Keadaan yang membuat keluarga kecil kita menjadi tidak lagi lengkap. Iya,
setelah kepergian Ayah untuk..., ya aku tidak perlu meneruskannya atau lebih
tepatnya, aku tidak mau menjadikan tulisan ini kemudian berwarna sendu.
Mama aku selalu ingat kata-katamu. Ulat tidak pernah selamanya bersembunyi di balik daun. Ia pasti akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang kaya akan semarak warna. Suatu saat nanti, masing-masing dari kita akan menemukan bahkan memamerkan kilau warnanya. Oleh karena itulah, aku yakin, aku percaya. Suatu saat nanti aku juga pasti dapat menjadi kupu-kupu yang cantik, yang akan terbang tinggi mewujudkan cita-citaku, yang akan membuatmu bangga.
“My
little girl. She act like a child to
me. But she often talk about all women though,” katamu pada suatu sore
saat kita sedang duduk di teras rumah, berbincang sambil menyeduh teh sepat kesukaan.
Sungguh, Mama adalah paket komplit yang tidak ada tandingannya. Sedikit yang
mau mengerti tetapi Mama selalu berusaha mengerti. Bahkan untuk urusan hati. Untuk
urusan yang paling kuhindari. Untuk urusan yang paling tidak kuingini. Untuk
urusan yang selama ini takut kumulai, yang selama ini tak pernah ingin kumulai.
Jatuh cinta!
Mama,
bukankah lelaki yang berjanji akan selalu menciumi hujan di mataku itu sudah jahat
sekali? Dia meruntuhkan dinding yang selama ini pernah tinggi kubangun. Dia mampu
mendobrak pintu yang pernah sangat kukunci rapat-rapat. Dia mendatangkan debar
yang tak terjabarkan. Dia membuatku gundah karena rindu dan cemburu. Dia
membuatku ingin terus menulis tentang ‘hanya’ dia di baris-baris puisiku. Iya, dia
membuatku menjadi tidak waras. Aku terlalu benci mengatakan ini. Tetapi aku
terus memikirkannya, di luar batas ketidakpahamanku. Bukankah sebelum bertemu
dengannya, semuanya baik-baik saja? Semua bergerak seperti biasanya. Aku
baik-baik saja tanpa dia. Dia juga baik-baik saja tanpa aku. Bukankah
seharusnya memang selalu 'harus' seperti itu? Apakah ada cinta yang tak pernah membuat terluka? Mama,
katakan sesuatu padaku.
Kota
kecil kita, 01 Februari 2014
@rintikkecil
P.S : Mama, terima kasih untuk selalu membuatku bisa melihat segala sesuatu menjadi
terasa lebih istimewa. I love you! :*

0 Comments:
Post a Comment