Saturday, 1 February 2014

Kepada Perempuan Terhebat Dalam Hidupku

Untuk Mama yang selalu menyelipkan namaku dalam setiap baris-baris doa. Aku mencintaimu...


Mungkin aku bisa menyembunyikan kenyataan bahwa “aku sedang merasa buruk” kepada orang-orang lain dengan keceriaanku. Tetapi aku tahu aku tidak akan pernah bisa melakukan itu semua di depan Mama. Seperti halnya kata, Mama selalu berhasil membaca resah yang tertulis di mataku. Seperti halnya waktu, Mama selalu mengajarkan kepadaku tentang begitu banyak hal tentang makna hidup. Juga seperti halnya hujan, kataku-kataku bisa begitu saja menderas menceritakan segala yang aku rasakan. Tanpa perlu panduan. Tanpa perlu aba-aba.


Di pelukan dan pangkuan Mama aku selalu menemukan tempatku pulang, melepas segala lelah. Mama, tentu saja kau adalah perempuan terhebat dalam hidupku. Seriously, there is no other beautiful words except, thank you! Thank you for everything you gave to me. Terima kasih telah menjadi sahabat, kakak, ibu sekaligus ayah untukku. Aku mengerti, menjadi single parent tentu sangat tidak mudah bagimu. Aku masih begitu ingat saat aku masih begitu nakal dan seringkali membuatmu marah karena beberapa hal. Termasuk kemarahanku tentang keadaan. Keadaan yang membuat keluarga kecil kita menjadi tidak lagi lengkap. Iya, setelah kepergian Ayah untuk..., ya aku tidak perlu meneruskannya atau lebih tepatnya, aku tidak mau menjadikan tulisan ini kemudian berwarna sendu.


Mama aku selalu ingat kata-katamu. Ulat tidak pernah selamanya bersembunyi di balik daun. Ia pasti akan bermetamorfosis menjadi kupu-kupu yang kaya akan semarak warna. Suatu saat nanti, masing-masing dari kita akan menemukan bahkan memamerkan kilau warnanya. Oleh karena itulah, aku yakin, aku percaya. Suatu saat nanti aku juga pasti dapat menjadi kupu-kupu yang cantik, yang akan terbang tinggi mewujudkan cita-citaku, yang akan membuatmu bangga.


My little girl. She act like a child to me. But she often talk about all women though,” katamu pada suatu sore saat kita sedang duduk di teras rumah, berbincang sambil menyeduh teh sepat kesukaan. Sungguh, Mama adalah paket komplit yang tidak ada tandingannya. Sedikit yang mau mengerti tetapi Mama selalu berusaha mengerti. Bahkan untuk urusan hati. Untuk urusan yang paling kuhindari. Untuk urusan yang paling tidak kuingini. Untuk urusan yang selama ini takut kumulai, yang selama ini tak pernah ingin kumulai. Jatuh cinta!


Mama, bukankah lelaki yang berjanji akan selalu menciumi hujan di mataku itu sudah jahat sekali? Dia meruntuhkan dinding yang selama ini pernah tinggi kubangun. Dia mampu mendobrak pintu yang pernah sangat kukunci rapat-rapat. Dia mendatangkan debar yang tak terjabarkan. Dia membuatku gundah karena rindu dan cemburu. Dia membuatku ingin terus menulis tentang ‘hanya’ dia di baris-baris puisiku. Iya, dia membuatku menjadi tidak waras. Aku terlalu benci mengatakan ini. Tetapi aku terus memikirkannya, di luar batas ketidakpahamanku. Bukankah sebelum bertemu dengannya, semuanya baik-baik saja? Semua bergerak seperti biasanya. Aku baik-baik saja tanpa dia. Dia juga baik-baik saja tanpa aku. Bukankah seharusnya memang selalu 'harus' seperti itu? Apakah ada cinta yang tak pernah membuat terluka? Mama, katakan sesuatu padaku.


Kota kecil kita, 01 Februari 2014
@rintikkecil

P.S : Mama, terima kasih untuk selalu membuatku bisa melihat segala sesuatu menjadi terasa lebih istimewa. I love you! :*

0 Comments: