Saturday, 8 February 2014

Di Kaca Bus

Teruntuk Sebuah Nama,
Setitik sumringah melentingkan kisah berbalut gerimis : perihal sebuah nama yang pernah kutitipkan pada kaca bus. Ingatkah?

Kala itu, angin sedang memuja hujan. Ditanaknya rerintik agar hangat. Agar uapnya menyilaukan pekat sampai berkaca-kaca. Sampai tergerus, mengering, tak terlalu kelabu. Tak terlalu abu-abu untuk mencungkili biru. Karena aku ini jingga, tak membiarkanmu renta mengeja : apa yang tertulis, yang tak selalu terungkap, yang paling jujur.

Dan tersenyumlah sayang. Di dada malam, bersama teropong bintang. Kau-aku akan mencuri terang. Membatik kata dengan canting. Membidik cerita dengan kerlap kunangkunang kuning. Menjadikannya denting, yang menjalar arang, meski hanya dengan saling diam. Kau-aku akan menjadi seonggok puisi yang puisi. Benar begitu, bukan?

0 Comments: