Teruntuk
Sebuah Nama,
Setitik
sumringah melentingkan kisah berbalut gerimis : perihal sebuah nama yang pernah
kutitipkan pada kaca bus. Ingatkah?
Kala
itu, angin sedang memuja hujan. Ditanaknya rerintik agar hangat. Agar uapnya
menyilaukan pekat sampai berkaca-kaca. Sampai tergerus, mengering, tak terlalu
kelabu. Tak terlalu abu-abu untuk mencungkili biru. Karena aku ini jingga, tak
membiarkanmu renta mengeja : apa yang
tertulis, yang tak selalu terungkap, yang paling jujur.
Dan
tersenyumlah sayang. Di dada malam, bersama teropong bintang. Kau-aku akan
mencuri terang. Membatik kata dengan canting. Membidik cerita dengan kerlap kunangkunang kuning. Menjadikannya
denting, yang menjalar arang, meski hanya dengan saling diam. Kau-aku akan
menjadi seonggok puisi yang puisi. Benar
begitu, bukan?

0 Comments:
Post a Comment