Saturday, 15 February 2014

Surat Buat Ayah

Kepada Ayah,

Apa kabar Ayah? Ini bukan pertanyaan basa-basi karena aku memang ingin benar-benar menanyakan kabarmu. Semoga Ayah selalu baik-baik saja dan selalu dalam lindunganNya. Berapa tahun sudah tidak bertemu? Ah, putrimu yang sangat bandel ini sudah hampir lulus kuliah rupanya. Tenanglah, bukankah aku sudah (harus) cukup mandiri, menumpuk sendiri, balok-balok mimpi tanpa petuahmu. Meskipun terkadang seonggok rasa iri pernah mampir kepadaku. Ingat waktu aku masih kecil dulu? Ketika semua Ayah di sekolahku datang untuk mengambilkan nilai rapor untuk anaknya? Ingat waktu aku masih remaja dulu? Ketika ada teman lelakiku datang untuk bermain ke rumah? Aku pernah berpikir begini, jika ada Ayah pasti ia adalah orang yang akan memasang muka paling galak sedunia karena terlalu mengkhawatirkan anaknya. Lucu mengingatnya Yah. Ternyata putrimu pernah iri dengan hal-hal semacam itu.

Ini adalah perkara tentang sia-sia untuk menyalahkan siapa-siapa. Jika aku pernah membencimu, itu karena aku belum bisa menerima. Aku belum tahu apa-apa. Aku percaya bahwa hidup adalah tentang pilihan. Bahwa Ayah memilih untuk menemukan kebahagiaan yang Ayah cari. Atau Mama yang memilih untuk masih sendiri sampai saat ini. Atau tentang aku yang juga akan memilih pilihan-pilihan dalam hidupku. Dari hidup aku banyak belajar tentang menerima. Dari perempuan terhebat dalam hidupku aku banyak belajar tentang hal-hal yang tidak akan pernah kudapatkan dari pelajaran-pelajaran yang kupelajari di sekolah.

Hidup adalah tentang bagaimana kita bisa menjalani segala sesuatunya dengan prasangka-prasangka baik. Karena Tuhan juga punya banyak rahasia dan kejutan yang baik. Untukku, untukmu, untuk kita semua. Aku pernah jatuh berkali-kali Yah. Jatuh yang rasa sakitnya berbeda dengan rasa sakit ketika aku jatuh dari belajar mengendarai sepeda. Jatuh yang rasa sakitnya juga berbeda dengan rasa sakit ketika aku dicubit Mama karena aku nakal, atau karena nilai ulangan matematikaku jelek. Jatuh yang membuat pikiran dan hatiku juga ikut seketika jatuh. Jatuh sebagai gadis kecil yang sedang belajar tentang makna hidup. Sebagai seorang perempuan. Juga sebagai seseorang yang mencintai. Tetapi perihal jatuh itu pada akhirnya mengajarkanku bagaimana untuk menjadi kuat. Jatuh yang membuatku tidak lantas berhenti. Karena aku jatuh untuk bangkit lagi.

Each of people has some unique stories of life. Certainly with different character and miraculous plot. And me? I am grateful I was born as me.

Selamat malam Ayah. Aku akan menjaga diriku baik-baik. Dimana pun Ayah berada, semoga Ayah selalu bahagia. Salam untuk Ayah sekeluarga.

Salam manis,
Putrimu.

0 Comments: