Kepada
Ayah,
Apa
kabar Ayah? Ini bukan pertanyaan basa-basi karena aku memang ingin benar-benar
menanyakan kabarmu. Semoga Ayah selalu baik-baik saja dan selalu dalam
lindunganNya. Berapa tahun sudah tidak bertemu? Ah, putrimu yang sangat bandel ini
sudah hampir lulus kuliah rupanya. Tenanglah, bukankah aku sudah (harus) cukup mandiri, menumpuk sendiri, balok-balok mimpi
tanpa petuahmu. Meskipun
terkadang seonggok rasa iri pernah mampir kepadaku. Ingat waktu aku masih kecil
dulu? Ketika semua Ayah di sekolahku datang untuk mengambilkan nilai rapor
untuk anaknya? Ingat waktu aku masih remaja dulu? Ketika ada teman lelakiku
datang untuk bermain ke rumah? Aku pernah berpikir begini, jika ada Ayah pasti
ia adalah orang yang akan memasang muka paling galak sedunia karena terlalu
mengkhawatirkan anaknya. Lucu mengingatnya Yah. Ternyata putrimu pernah iri
dengan hal-hal semacam itu.
Ini
adalah perkara tentang sia-sia untuk menyalahkan siapa-siapa. Jika aku pernah membencimu, itu karena aku belum bisa menerima. Aku belum tahu apa-apa. Aku percaya bahwa
hidup adalah tentang pilihan. Bahwa Ayah memilih untuk menemukan kebahagiaan
yang Ayah cari. Atau Mama yang memilih untuk masih sendiri sampai saat ini.
Atau tentang aku yang juga akan memilih pilihan-pilihan dalam hidupku. Dari
hidup aku banyak belajar tentang menerima. Dari perempuan terhebat dalam
hidupku aku banyak belajar tentang hal-hal yang tidak akan pernah kudapatkan
dari pelajaran-pelajaran yang kupelajari di sekolah.
Hidup
adalah tentang bagaimana kita bisa menjalani segala sesuatunya dengan
prasangka-prasangka baik. Karena Tuhan juga punya banyak rahasia dan kejutan
yang baik. Untukku, untukmu, untuk kita semua. Aku pernah jatuh berkali-kali
Yah. Jatuh yang rasa sakitnya berbeda dengan rasa sakit ketika aku jatuh dari
belajar mengendarai sepeda. Jatuh yang rasa sakitnya juga berbeda dengan rasa
sakit ketika aku dicubit Mama karena aku nakal, atau karena nilai ulangan
matematikaku jelek. Jatuh yang membuat pikiran dan hatiku juga ikut seketika jatuh.
Jatuh sebagai gadis kecil yang sedang belajar tentang makna hidup. Sebagai seorang
perempuan. Juga sebagai seseorang yang mencintai. Tetapi perihal jatuh itu pada
akhirnya mengajarkanku bagaimana untuk menjadi kuat. Jatuh yang membuatku tidak
lantas berhenti. Karena aku jatuh untuk bangkit lagi.
Each
of people has some unique stories of life. Certainly with different character
and miraculous plot. And me? I am grateful I was born as me.
Selamat malam Ayah. Aku
akan menjaga diriku baik-baik. Dimana pun Ayah berada, semoga Ayah selalu
bahagia. Salam untuk Ayah sekeluarga.
Salam
manis,
Putrimu.

0 Comments:
Post a Comment