Untukmu
sahabatku yang lucu,
Tyas jangan bersedih. Karena kamu akan terlihat lebih manis bila tersenyum dan kembali ceria. Tenanglah, tidak ada yang perlu kamu cemaskan. Apalagi mencemaskan hal-hal yang tidak pasti. Life is all about how can we enjoy it, right? Bahkan kamu sendiri yang sering mengatakan kalimat itu kepadaku. “Kita harus jadi perempuan yang kuat. Karena kita tidak layak untuk didera,” katamu.
Semoga
surat ini bisa sedikit menghiburmu ya. Hei, bukankah kamu sangat suka membaca
dongeng sebelum tidur? Maka, di surat ini aku akan menceritakan sebuah dongeng
yang belum pernah kamu baca sebelumnya. Karena dongeng yang akan aku ceritakan
ini adalah dongeng yang kutulis sendiri khusus buat kamu. Dongeng yang bisa
kamu taruh di antara dongeng-dongeng yang pernah kamu baca sebelum tidurmu. Kamu
juga bisa menyelipkannya di helai-helai mimpi kamu. Semoga hanya ada mimpi
indah yang tersangkut di sana.
Ini adalah kisah tentang putri hujan dan pangeran payung dari negeri awan. Putri hujan sudah lama hidup sebatang kara, resmi semenjak takdir mencatat kepergian raja dan ratu langit. Sungguh kasihan, ia menjalani hari dengan berteman sepi. Hal yang dapat dilakukan Sang Putri adalah menunggu. Menunggu pelangi selepas hujan. Agar langitnya bisa menjadi lebih berwarna. Sampai pada suatu hari, bertemulah ia dengan seorang pangeran. Pangeran payung namanya. Seperti pelangi, hari-hari Sang Putri berubah menjadi warna-warni. Tetapi sayang, itu tidak berlangsung lama. Penyihir gigil dari ladang paku rupayanya tidak rela jika Sang Putri bisa bahagia. Apa yang akan dilakukan penyihir gigil yang licik itu? Cerita lengkapnya akan aku kirim via email ya. Aku sedang agak sibuk. Akhir-akhir ini aku sering lembur.
Berjanjilah untuk tidak sedih lagi. Kuhitung sampai 3.
1, 2, 3. Senyum? :)

0 Comments:
Post a Comment