Ini adalah versi cerita pendek dari puisi saya yang
berjudul "Secangkir Hujan Desember Ini"
You can read it in http://rintikkecil.blogspot.com/2013/12/secangkir-hujan-desember-ini.html
You can read it in http://rintikkecil.blogspot.com/2013/12/secangkir-hujan-desember-ini.html
Pagi yang gerimis, kutanak rindu di
tepian matamu,
di sederet kisah yang luber pada
hujan di bulan Desember.
Sudah
bulan Desember rupanya. Itu berarti langit akan lebih mendung dari biasanya,
hujan akan lebih deras dari biasanya, dan ingatanku tentang kita akan lebih
menggenang tentu saja. Oh maaf, aku ralat. Sekarang hanya akan ada aku dan
kamu. Tidak akan ada lagi kata kita. Hei, apakah kamu pernah mendengar kisah
tentang sepatu yang mengaduh di musim paling gersang? Di musim yang membuatnya
sedih, dan ia hanya mampu menyimpan dan menceritakan kesedihannya untuk dirinya
sendiri. Begini ceritanya. Ketika itu dingin menempel di tubuhmu, di kakimu. Kamu menatap hujan dengan tatapan mengutuk. Kamu
tidak bisa berlari, tidak bisa terburu-buru karena hujan sedang menghambat
langkahmu. Kamu sangat benci basah. Kamu sangat tidak menyukai hujan. Aku
sangat tahu benar itu.
“Matahari
begitu terik tetapi hujan justru turun dengan sangat derasnya. Hujan yang
datang terlalu terburu-buru saat rumput tak terlalu rindu dicumbu basah. Hujan
di musim yang tidak tepat,” katamu. Kamu menengok sepatu hitam usang yang kamu
kenakan hari itu. Lalu kembali menggerutu, mencibir hujan.
***
Sudah
hampir pukul satu siang, tetapi kamu belum juga datang. Padahal di pesan
singkat yang kamu kirimkan untukku semalam, kita akan bertemu di sini tepat
pukul dua belas. “Lelaki sepertimu sangat menghargai waktu, kecuali... ’’ aku
melemparkan pandangan keluar jendela untuk melihat langit dan ternyata benar
langit memang sedang hujan. Tiba-tiba aku jadi membayangkan ekspresi wajahmu
yang lucu sekaligus menjengkelkan itu.
“Lelaki
sepertimu pantas saja tidak bisa menyukai hujan,” ucapku suatu ketika.
“Lelaki
seperti apa?” kamu memandangku dengan tatapan garang.
“Lelaki
dingin, judes, tidak ramah, nyebelin. Ah, nggak banget pokoknya,” seperti biasa
aku bicara tanpa titik koma tanpa takut menyinggung perasaannmu. Aku sudah
terlalu mahir melakukannya dan kamu juga terlampau hebat menanggapinya. Aku dan
kamu sudah terbiasa seperti itu. Kita sudah bersahabat sejak lama. Biarpun kamu
sangat menyebalkan tetapi aku sangat tahu kamu adalah lelaki yang sangat baik.
Dan satu hal penting yang aku tahu adalah kamu selalu ada buatku.
“Padahal
bukankah hujan juga yang telah mempertemukan kita? hujan telah menjadikan hidup
menjadi lebih hidup, menghadirkan milyaran inspirasi untukku menulis, dan... ”
“Hari
ini kamu cerewet sekali,” kamu memotong pembicaraanku.
“Bisa
nggak sih sekali-kali jangan memotong pembicaraan orang?” aku memanyunkan muka.
***
Langit
Ara
pasti sedang cemberut menungguku. Perempuan yang mencintai hujan itu tidak
pernah suka aku terlambat. Tetapi hari ini aku sedang terjebak hujan. Aku tidak
suka basah tetapi aku juga tidak suka memakai payung. Aku jadi teringat kisah patah hati yang perempuan
itu ceritakan padaku di dua jam obrolan telepon semalam. Hari ini ia memintaku
mendengarkan segala keluh kesahnya. Entahlah, aku sangat suka mendengar ia
bercerita.
Ia
pencerita yang sangat baik. Matanya selalu hidup saat ia bercerita meskipun
dalam cerita-ceritanya hanya ada luka dan kepedihan yang ia pelihara, yang
seharusnya tidak pernah perlu. Ia sungguh sudah terlalu cerdas untuk memanjakan
lukanya. Ia begitu sejak ia resmi jatuh cinta pada seorang lelaki dari negeri
dongengnya. Dongeng yang hanya pernah ia ciptakan sendiri. Aku masih sangat
ingat, lelaki yang disebut-sebutnya mirip Andy Lau, seorang penulis yang pernah
ia kenalkan padaku satu tahun yang lalu itu. Ah bagaimana bisa ia jatuh hati
pada lelaki seperti itu? Ia jatuh hati karena lelaki itu memiliki wajah yang
mirip Andy Lau? Idolanya itu? Itu sinting! Itu gila! Itu benar-benar tidak
masuk akal!
Lalu
ia patah hati ketika cintanya bertepuk sebelah tangan. Sejak saat itulah, aku
tahu kenapa puisi-puisi yang ditulis olehnya seperti menangis. Rupanya
perempuan itu melahirkan puisi dari air mata dan luka.
Ara,
aku tidak bisa berhenti mengeja namanya. Perempuan itu adalah pencerita dongeng
yang ditakdirkan untuk membuatku tergila-gila.
***
Aku
benci menunggu, kamu sangat tahu itu kan? Awas saja. Aku pasti akan
memberikanmu pelajaran jika kamu datang nanti. Tetapi sebenarnya sekujur rasa
khawatir tengah dengan cepatnya mengerubungi dan menguasai diriku. Aku khawatir
terjadi apa-apa dengan dirimu. Oleh karena itulah, aku memutuskan untuk
meneleponmu saja. Lama. Kamu tidak mengangkat telepon. “Kamu tidak mungkin lupa
jalan kemari kan? Bodoh sekali jika sampai tersesat,” aku mendesis.
Oh, aku ingat dengan beberapa puisi
yang baru saja kutulis dan ingin kutunjukkan kepadamu. Banyak juga kisah baru
dalam perjalanan hidupku yang harus kamu dengarkan. Entahlah, kamu adalah
pendengar yang baik. Sangat baik malah. Aku senang ketika sedang bercerita
kepadamu. Kamu bahkan tidak perlu untuk berkomentar apapun apalagi mengasihani
kisah patah hatiku saat ini.
“Kamu
jatuh cinta?” kamu menertawakanku suatu ketika.
“Kenapa
kamu tertawa? Apakah jatuh cinta adalah sesuatu yang lucu?” menertawakan
sesuatu yang sama sekali tidak lucu, itu jelas sekali namanya lancang.
Lalu
kamu mengamatiku dengan lekat-lekat. Tatapan yang sama sekali sangat tidak
kusukai. Menjijikkan.
“Dia
seperti Andy Lau,” cetusku. “Dan ini adalah untuk pertama kalinya aku jatuh
cinta. Akan kuabadikan momen ini dalam buku harianku. Aku pertama kali jatuh
cinta tepat ketika aku berusia 20 tahun.”
Aku
tidak memberikan kesempatan untukmu menyelaku. “Ini tidak mungkin salah. Aku
sangat tahu benar bagaimana rasanya jatuh cinta, persis seperti di novel-novel
roman yang pernah aku baca. Seseorang yang jatuh cinta pasti akan lebih susah
melakukan segala hal, termasuk ketika makan dan tidur. Mereka yang jatuh cinta
akan selalu memikirkan seseorang yang dicintainya itu. Waktu bersama ketika
bersamanya akan terasa sangat singkat sedangkan ketika berpisah, ah begitu
terasa sangat panjang. Mereka akan berbunga-bunga sepanjang hari, terutama
ketika mendapat ucapan selamat pagi dan selamat tidur. Terkadang mereka juga
akan gelisah dan cemburu-cemburu tidak jelas. Level penasaran tentang segala
hal yang berkaitan dengannya akan menaik drastis. Kamu bisa bayangkan itu? Ah,
tentu saja tidak. Karena lelaki sepertimu tidak pernah mengalami rasanya jatuh
cinta, bukan? Sedangkan aku, aku saat ini sedang mengalaminya.” Aku sangat
menggebu-gebu bercerita.
Seketika
aku benar-benar seperti sedang mendengar suara kamu. Benar sekali. Itu kamu!
Aneh sekali. Hari ini kamu kuyup. Apakah kamu benar-benar menerjang hujan? Aku
bahkan tidak bisa mempercayainya.
“Langit!
Ke sini!” Aku melambaikan tangan ke arahmu.
***
Langit
Sudah
jam satu dan hujan tak kunjung juga reda. Malah semakin deras. Aku takut Ara
akan marah. Maka untuk pertama kalinya aku memutuskan untuk menerjang basah.
Aku berlari, melompati genangan demi genangan air yang mengambang di jalanan.
“Sudah hampir sampai,” gumamku.
Aku juga melihat Ara. Oh, tidak
seperti hari-hari biasanya. Hari ini ia mengenakan baju dengan warna yang paling
ia hindari. Hitam. Tidak mungkin melesat lagi. Ia pasti sedang tidak baik.
Perempuan itu punya kebiasaan yang aneh, ia seringkali menyerasikan warna baju
dengan suasana hatinya. Jika langit sedang mendung, ia akan memakai baju
berwarna abu-abu. Jika cerah, ia memakai baju kuning. Warna ini menggambarkan
ini. Warna itu menggambarkan itu. Masih banyak hal yang susah kutebak. Tetapi
satu hal yang paling aku tidak ketahui adalah ketika ia tiba-tiba memakai baju
berwarna merah jambu. Apakah hatinya sedang merah jambu?
Saat ini sudah bulan Desember. Ia
memakai baju berwarna merah jambu ketika bulan Desember yang lalu. Itu
menandakan sudah satu tahun. Sudah satu tahun ia tergila-gila dengan lelaki
pujaannya itu. Segala cerita yang meluncur dari bibirnya begitu menderas
seperti hujan. Padahal jatuh cinta yang pertama kalinya ini sekaligus membuat
ada seseorang yang seketika patah. Aku. Jadi sangat salah bukan ketika ia
dengan secara frontalnya mengatakan aku tidak mengerti rasanya jatuh cinta? Aku
bahkan sudah mengalami. Jauh lebih dulu daripada ia. Iya. Tanpa ia sadari.
Tetapi
semalaman ia terisak. Menangis tersedu-sedu. Perempuan itu bilang, ia sedang patah
hati. Ah, betapa mungkin perempuan sepertinya dicampakkan? Cintanya bertepuk
sebelah tangan.
Aku
melihat perempuan bermata bintang itu melambaikan tangan. Aku menghampirinya.
***
Astaga!
Kamu basah. Kamu menerjang hujan. Aku masih tidak percaya itu. Aku merogoh
kamera dari tasku. Memotret. Mengabadikan momen paling langka ini.
Terus terang saja. Ada beberapa hal
yang mengharuskan aku untuk menunjukkan rasa marah padamu. Tetapi lagi-lagi.
Betapa aku tidak bisa. Aku kasihan melihatmu terlilit gigil seperti itu.
“Biarkan kupesankan cokelat panas
untukmu dulu.” Aku membuka percakapan.
“Kamu tidak marah?”
“Untuk?” aku pura-pura tidak
mengerti.
“Ya karena aku hari ini terlambat.
Kamu pasti sudah menunggu cukup lama, bukan?”
“Bukan cukup. Tapi sangat lama
sekali.” Aku sangat jengkel mendengar kamu mengucapkan kalimat cukup dengan
entengnya.
“Oke. Jadi kenapa dia
meninggalkanmu?”
Betapa sungguh tidak sopannya kamu.
Sudah datang terlambat. Tidak minta maaf. Tidak merasa bersalah. Dan sekarang
menanyakan sesuatu dengan tanpa beban seakan menanyakan kamu sudah makan atau
belum?
Mendadak aku jadi ingin cepat
minggat saja dari tempat ini. Manusia dingin sepertimu, sebaiknya diapakan?
Aiiiih...
“Jangan cemberut gitu ah. Oke aku
minta maaf. Banget!” kamu menangkupkan kedua tanganmu.
Aku sama sekali tidak tertarik
dengan kata maaf. Aku lebih tertarik dengan apa yang terjadi pada sepatumu.
“Kamu tidak pakai sepatu? Sepatumu
kemana?” aku bertanya penasaran.
“Rusak. Langkahku semakin terhambat
karenanya,” kamu menjawab
“Jadi
kamu membuangnya begitu saja?” aku tidak bisa untuk tidak mendesak kali ini. “Itu
sepatu yang kuberikan pada saat ulang tahunmu yang ke 23. Serusak dan sejelek
apapun, harusnya kamu tidak membuangnya. Kamu cukup menyimpannya dan itu bisa membuatku
bahagia. Bukankah aku pernah bilang seperti itu padamu?”
***
Langit
Hanya
karena aku membuang sepatu usang pemberiannya itu. Ara sangat marah padaku.
Marah sekali. Perempuan itu kerap menerapkan peraturan-peraturan aneh. Tetapi
justru itu yang membuatnya terasa istimewa untukku. Jika katanya, sepatu itu
mempunyai kisah sedih yang hanya bisa disimpan dan diceritakan untuk dirinya
sendiri. Maka ada satu hal yang harusnya juga perlu ia ketahui. Di luar sana
sedang hujan, seorang lelaki dingin kedinginan berharap perempuan bermata
bintangnya kembali. Lelaki itu kerap menyeduh hujan dan kisah cinta diam-diam
yang hanya mampu dipendam. Untuknya sendiri.
Rupanya
tidak butuh waktu lama untuk membuat aku dan ia, menjadi kembali asing.
Aku
melangkah tanpa takut lagi terkena basah. Aku sayup yang tak pernah takut lagi menjadi
kuyup. Aku adalah dingin yang ingin mencintainya tanpa harus diam-diam lagi.
Dalam hujan aku menari, sembari merapalkan sebuah nama yang menjadi namanya. Ara.
Yang menghimpun banyak ingatan
adalah kenangan.
Sedangkan aku adalah rindu yang pecah
dari langit yang gemuruh itu.
Kini
aku tahu apa yang harus aku lakukan. Menjemputnya. Mengatakan segalanya.
Sebelum menyesal. Sebelum semuanya menjadi lebih menyakitkan.
