Ada daun berkemas karena langit begitu cemas. "Sebentar lagi akan gerimis, sayangku." Lalu ia menatap tempias seorang perempuan yang mengaduh; pada sebait puisi yang lahir dari air mata dan luka.
Seringkali kata menjadi lusuh ketika tak ada lagi yang tercebur dalam rindu yang membasuh, k-i-t-a. Sementara kita hanyalah kau-aku yang membiarkan kenangan tersayat dingin, membaur bersama sekujur sesal yang melilit, dalam pergi yang tak sebenar-benarnya ingin.
"Rindu, sayangku. Hanyalah perihal kamu yang menyelinap pelan-pelan di antara kata yang sepi, yang saling berpandangan. Meski tak bersisian."
Mari sini sebentar, menyeduh secangkir hujan.
Malang, akhir Desember 2013.


0 Comments:
Post a Comment