Bersama
setangkup gerimis dan seduhan teh sepat pukul tiga pagi, kau datang leraikan
seteru angin yang gaduh menggangguku menenun cerita.
Di
segala ricik yang mericik di sederet huruf yang jelma rindu, kau hamburkan
helai-helai mimpi di rambutku, yang lalu kukepang kecil-kecil dan kuberi pita
warna-warni. Dalam rangkaian kata yang bergeming di langit hening. Dalam
balutan doa yang selalu mempertemukan kita.
Tiga
pagi ini, ada desir yang menyisir detik-detik penciptaan ketidakpahaman, yang menyemai
apakah. Baiknya pergilah atau lihatlah! Hatiku saat ini sedang dibasahi apa?
“Hujan di bulan Desember,” katamu.
Dari
kejauhan, seperti bisikan yang samar memanggil, simpul-simpul ingatan yang
rengkuh di beberapa jenak, raut kisah yang perih itu, yang tiba-tiba tak jadi
murung karena telah lebih dulu, menabuh gandrung.



0 Comments:
Post a Comment