Saturday, 11 May 2013

Diam-Diam Mencintaimu (3)


Tidak sedang hujan. Tidak ada percikan air yang menggenangi rumput. Tidak ada yang kebasahan dan merengek meminta dibuatkan cokelat panas. Tidak ada kamu. Ya, tepatnya aku tidak tahu kamu sedang berada di mana. Apa kabarmu Jelita?
Sungguh. Saat ini juga aku sangat ingin meneleponmu, demi sekadar bertanya apakah kemarau ramah padamu? Atau mendengar cerita-cerita pangeran berpayung dari negeri hujanmu. Sudahkah bertemu? Atau penyihir gigil masih memasung ricik dan menebar ngilu di sisik langit yang kamu gambar biru? Begitu banyak yang bisa kamu ceritakan padaku. Ah… kamu memang perempuan pemimpi.
“Kapan terakhir kali kau melihat bintang jatuh?” itu adalah percakapan terakhirku denganmu yang jelas-jelas masih kurekam mesra dalam ingatan terpenting dari yang paling penting. Lalu dengan tanpa titik koma, kamu mendongeng seperti biasanya, persis seperti yang dilakukan Mama ketika aku masih belum tahu apa-apa tentang hidup, tentang cinta, tentang kamu. Rupanya ceritamu mampu menyihirku, bukankah memang sangat mudah untuk jatuh hati padamu, Jelita? Kuharap ini tidak keliru.
Tapi kamu tak kunjung juga percaya. Kamu kerap mengeja harapan yang sia-sia. Harapan yang datang dari dia yang kamu sebut dermaga. Padahal bukankah aku, sang dermagamu? Dermaga yang selama ini kamu cari. Dermaga yang paling kamu rindukan. Tapi kamu tak kunjung juga mengerti. kamu menghilang. Tidak ada lagi di mimpi-mimpiku. Tidak ada lagi di mana-mana. Dan menunggumu sudah seperti menunggu bintang jatuh. Mungkin juga seperti menunggu hujan di musim kemarau yang begitu gersang. Begitu sia-sia dan mengecewakan, bukan?

***
“Ben, permohonan apa yang akan kau minta ketika ada bintang jatuh?”
“Kamu. Kembalilah.” Pintaku pada perempuan bermata lentik itu.

Friday, 10 May 2013

Pada Sebaris Aksara Yang Retak


Sudah tersayat retak, aksara yang menamai jerit. Terlampau merenggang bila harus kuerami tabir, bukan? Maka pada dua larik lirik yang sangat berisik itu, kusematkan mantra pengiris gaduh: yang tak teduh-teduh.
                
Dengarlah, ada yang mencuri dengar. Katub-katub getar, mengakar, mencakar-cakar. Menerabas deras kata-kata yang meluncur, tercucur kusam. Tak terhindarkan. Lalu, harus kuselimuti dengan apakah getir yang menyeruakkan harum demi harum yang ini-ini juga ini?

Lembayung memaku kenang yang tesangkut di curah rerintik. Dikibaskannya huruf-huruf dengan tepuk tangan. Dengan sorak bocah-bocah yang dimanjakan dongeng hujan, yang dulu pernah tergores rapi di pori-pori awan. Sedang di ladang entah, biji-biji cokelat sibuk memanen puisi, mencetak ulang bait dengan baris yang kurang. Seakan pulasan retak telah mengambil alih pementasan dengan menari riang,  di atas kanvas yang sulit diterjemahkan.

Perlahan, kuhirup teh sepat yang pucat. Kupecahkan cangkirnya,  menjadi keping-keping yang silau di mata gerimis. “Au revoir,” lambaiku berat. Sekilas keterpesonaan pun dilarikan angin, hingga percikan warnanya kian memburam manakala paku menancapi musim dan musim tertancapi paku. Daun-daun kering menangisi jemu, bukan berarti tak mencintaimu.

Malang, 10 April 2013. (15:56)