Tidak sedang hujan. Tidak ada percikan
air yang menggenangi rumput. Tidak ada yang kebasahan dan merengek meminta
dibuatkan cokelat panas. Tidak ada kamu. Ya, tepatnya aku tidak tahu kamu sedang
berada di mana. Apa kabarmu Jelita?
Sungguh. Saat ini juga aku sangat
ingin meneleponmu, demi sekadar bertanya apakah kemarau ramah padamu? Atau
mendengar cerita-cerita pangeran berpayung dari negeri hujanmu. Sudahkah
bertemu? Atau penyihir gigil masih memasung ricik dan menebar ngilu di sisik
langit yang kamu gambar biru? Begitu banyak yang bisa kamu ceritakan padaku.
Ah… kamu memang perempuan pemimpi.
“Kapan terakhir kali kau melihat
bintang jatuh?” itu adalah percakapan terakhirku denganmu yang jelas-jelas masih
kurekam mesra dalam ingatan terpenting dari yang paling penting. Lalu dengan
tanpa titik koma, kamu mendongeng seperti biasanya, persis seperti yang
dilakukan Mama ketika aku masih belum tahu apa-apa tentang hidup, tentang
cinta, tentang kamu. Rupanya ceritamu mampu menyihirku, bukankah memang sangat
mudah untuk jatuh hati padamu, Jelita? Kuharap ini tidak keliru.
Tapi kamu tak kunjung juga
percaya. Kamu kerap mengeja harapan yang sia-sia. Harapan yang datang dari dia
yang kamu sebut dermaga. Padahal bukankah aku, sang dermagamu? Dermaga yang selama
ini kamu cari. Dermaga yang paling kamu rindukan. Tapi kamu tak kunjung juga
mengerti. kamu menghilang. Tidak ada lagi di mimpi-mimpiku. Tidak ada lagi di
mana-mana. Dan menunggumu sudah seperti menunggu bintang jatuh. Mungkin juga seperti
menunggu hujan di musim kemarau yang begitu gersang. Begitu sia-sia dan mengecewakan,
bukan?
***
“Ben, permohonan apa yang akan
kau minta ketika ada bintang jatuh?”
“Kamu. Kembalilah.” Pintaku pada
perempuan bermata lentik itu.

0 Comments:
Post a Comment