Dalu, deru menalu, menguning
lusuhkan pelepah ingatan. Begitu pun di sudut temaram, ketam-ketam meliuk,
menari rangkaikan kisah bertemakan lelakon hujan. Tetapi kau tak kunjung juga
berbaur debur, seakan memetakan riuh dalam kuadrat bosan. “Di sini remang, cantikmu
akan terhalang rerintik,”suaramu terdengar getir sekali.
Rerintik pun merumuskan dingin
dalam tempias. Rupanya ada pandangan yang terhalang kabut, yang (sengaja) kau
lewatkan dan kau tanamkan di antara awan mendung berlumpur kelam. Di sela-sela
diam bernamakan s-a-n-d-i-w-a-r-a. Kemudian aku melangkah, mengitari buku-buku
yang tiba-tiba terjatuh. Entah karena angin atau peran yang terlalu dimanjakan.
Ada yang diam-diam terbakar, ada yang terus berusaha meyakinkan. Ada pula yang
menahan bagai. Bagai merasakan ranggas. Bagai merindukan hujan. Bagai itu,
menyisir cemas, padahal yang (katanya) dirindukan sudah berada di depan.
“Lelucon apa ini, Kakanda?”
tanyaku tanpa titik koma. Direntangkannya busur, dibidikkannya cerita ke mata, telinga,
sampai hatiku. Tapi tak ada satu pun panah yang tertancap, mengenaiku. Karena
aku, selalu bisa membaca bohongmu. Sudahlah!
Malang, 11 April 2013 (14:18)

0 Comments:
Post a Comment