Terhamparlah aku di halaman karam,
terantuk pecah di debur ombak
Menjadi angin atau asap yang
tersembunyi di balik lalu lalang puisi seperti
Asin air laut yang angslup tiba-tiba pada aroma apa mencari
siapa,
Atau siapa menunggu apa, memungut
tepi-tepi sepi di antara setangkup buih
Berwajah misteri, lalu pekat
menyekat pesisir rasa bernamakan gelombang
Tanpa kata-kata
Ke arah pasang, terkeruklah sel-sel
memori tentang yang bermata surut,
Berputih pasir, tak sedikit pun
senja. Berparas mimpi, tak sekali pun ada
Lagi-lagi langu, melumpur di
terumbu angan, berkelindan haru
Pada karang purba di hulu ingatan
yang mencari muara
Serupa ritme penuntun bagi
sebutir rindu yang kian satir
Terpagut garang, bibir laut
Laut tak berpenghuni, padahal
begitu lengang bagai dadamu yang
Kerap memanjakan nganga sajak di
pasir waktu, tanpa
Membiarkan aku, melukis sendu
cakrawala dari hujanmu
Yang (terlanjur) membatu diukir
tebing-tebing sesal, dan
Membuncah satusatu dari dasar
kisah yang menyigi entah
Padamu: gelombang menari gemulai
Malang, 01 Juni 2013

0 Comments:
Post a Comment