Monday, 3 June 2013

Gelombang


Terhamparlah aku di halaman karam, terantuk pecah di debur ombak
Menjadi angin atau asap yang tersembunyi di balik lalu lalang puisi seperti
Asin air laut  yang angslup tiba-tiba pada aroma apa mencari siapa,
Atau siapa menunggu apa, memungut tepi-tepi sepi di antara setangkup buih
Berwajah misteri, lalu pekat menyekat pesisir rasa bernamakan gelombang
Tanpa kata-kata

Ke arah pasang, terkeruklah sel-sel memori tentang yang bermata surut,
Berputih pasir, tak sedikit pun senja. Berparas mimpi, tak sekali pun ada
Lagi-lagi langu, melumpur di terumbu angan, berkelindan haru
Pada karang purba di hulu ingatan yang mencari muara
Serupa ritme penuntun bagi sebutir rindu yang kian satir
Terpagut garang, bibir laut

Laut tak berpenghuni, padahal begitu lengang bagai dadamu yang
Kerap memanjakan nganga sajak di pasir waktu, tanpa
Membiarkan aku, melukis sendu cakrawala dari hujanmu
Yang (terlanjur) membatu diukir tebing-tebing sesal, dan
Membuncah satusatu dari dasar kisah yang menyigi entah
Padamu: gelombang menari gemulai

Malang, 01 Juni 2013

0 Comments: