Sudah tersayat retak, aksara yang
menamai jerit. Terlampau merenggang bila harus kuerami tabir, bukan? Maka pada
dua larik lirik yang sangat berisik itu, kusematkan mantra pengiris gaduh: yang tak teduh-teduh.
Dengarlah, ada yang mencuri
dengar. Katub-katub getar, mengakar, mencakar-cakar. Menerabas deras kata-kata
yang meluncur, tercucur kusam. Tak terhindarkan. Lalu, harus kuselimuti dengan
apakah getir yang menyeruakkan harum demi harum yang ini-ini juga ini?
Lembayung memaku kenang yang
tesangkut di curah rerintik. Dikibaskannya huruf-huruf dengan tepuk tangan.
Dengan sorak bocah-bocah yang dimanjakan dongeng hujan, yang dulu pernah
tergores rapi di pori-pori awan. Sedang di ladang entah, biji-biji cokelat sibuk
memanen puisi, mencetak ulang bait dengan baris yang kurang. Seakan pulasan
retak telah mengambil alih pementasan dengan menari riang, di atas kanvas yang sulit diterjemahkan.
Perlahan, kuhirup teh sepat yang
pucat. Kupecahkan cangkirnya, menjadi
keping-keping yang silau di mata gerimis. “Au
revoir,” lambaiku berat. Sekilas keterpesonaan pun dilarikan angin, hingga percikan
warnanya kian memburam manakala paku menancapi musim dan musim tertancapi paku.
Daun-daun kering menangisi jemu, bukan
berarti tak mencintaimu.
Malang, 10 April 2013. (15:56)

0 Comments:
Post a Comment