Friday, 10 May 2013

Pada Sebaris Aksara Yang Retak


Sudah tersayat retak, aksara yang menamai jerit. Terlampau merenggang bila harus kuerami tabir, bukan? Maka pada dua larik lirik yang sangat berisik itu, kusematkan mantra pengiris gaduh: yang tak teduh-teduh.
                
Dengarlah, ada yang mencuri dengar. Katub-katub getar, mengakar, mencakar-cakar. Menerabas deras kata-kata yang meluncur, tercucur kusam. Tak terhindarkan. Lalu, harus kuselimuti dengan apakah getir yang menyeruakkan harum demi harum yang ini-ini juga ini?

Lembayung memaku kenang yang tesangkut di curah rerintik. Dikibaskannya huruf-huruf dengan tepuk tangan. Dengan sorak bocah-bocah yang dimanjakan dongeng hujan, yang dulu pernah tergores rapi di pori-pori awan. Sedang di ladang entah, biji-biji cokelat sibuk memanen puisi, mencetak ulang bait dengan baris yang kurang. Seakan pulasan retak telah mengambil alih pementasan dengan menari riang,  di atas kanvas yang sulit diterjemahkan.

Perlahan, kuhirup teh sepat yang pucat. Kupecahkan cangkirnya,  menjadi keping-keping yang silau di mata gerimis. “Au revoir,” lambaiku berat. Sekilas keterpesonaan pun dilarikan angin, hingga percikan warnanya kian memburam manakala paku menancapi musim dan musim tertancapi paku. Daun-daun kering menangisi jemu, bukan berarti tak mencintaimu.

Malang, 10 April 2013. (15:56)

0 Comments: