Friday, 1 March 2013

Melukis Hujan


Untukmu yang mencintai hujan…

Lagi dan lagi. Aku merasa ingin muntah setelah membaca surat-suratnya yang tak pernah sampai itu. Mataku kini tersudut pada ending tulisannya yang sangat rapi berjejeran. “Anata ga daisuki. Kokoro naka de anata mo dake[1].” Sungguh bagiku sangatlah terdengar klise.
Hari ini aku dan dia kembali dipertemukan dalam percakapan silang. Kita saling merapalkan satu persatu impian yang sesak membanjiri pikiran. Perlahan menyelipkannya ke lembaran daun-daun kering. Warnanya coklat. Aku sangat menyukai warna itu. Aku pun mengambil kuas dan menggambar langit dengan warna cokelat di kanvasku. “Kenapa cokelat?” tanya perempuan Jawa yang merasa dirinya tak memiliki bulu mata lentik itu dengan logat british yang dibuat-buat. Aku melirik perempuan itu dengan tatapan mulas dan ingin muntah sama seperti saat membaca surat-surat dalam bahasa yang tak pernah saling kita mengerti satu sama lain.
Kembali ke pertanyaan yang dilontarkannya tadi. Harusnya dia tahu dan tidak perlu menanyakannya lagi. Apalagi logat british yang keluar dari bibir tipisnya itu membuat aku sangat ingin segera menumpahkan sebotol minyak kayu putih ini ke ke rambut sebahunya yang hitam pekat. Dia memang manusia yang terawat. Tapi, cukup hari ini aku tidak ingin berdebat dengannya. “Aku bosan dengan biru,” jawabku dengan nada datar.
Senja mulai menyibakkan elegant warnanya. Warna yang sangat disukai oleh perempuan di sebelahku itu. Aku tidak pernah mengerti dan tidak pernah mau mengerti untuk alasan apa dia sangat menyukai warna senja. Pun dia yang juga selalu menertawakanku dengan cokelatku. Aku menggilai Andy Lau dia menggilai Shah Rukh Khan. Aku mencintai kopi dia mencintai teh. Aku lebih memilih menghabiskan weekend-ku  untuk pergi ke bioskop menonton film action, sedangkan dia lebih memilih bercumbu dengan pena, hujan dan dongeng yang sama sekali tidak aku “banget” itu. Entahlah. Bagiku dia adalah perempuan paling gila yang pernah aku kenal. Dan untuk entahlah juga kegilaan dan ketidaknyambungan inilah yang justru membuat kita menjadi sahabat dekat. Tuhan memang selalu punya rencana dan alasan untuk mempertemukan kita, bukan?
Sejenak hening. “Aku sudah lama tak melihatmu menulis sajak.” Aku memutuskan untuk memulai percakapan.
Sudah seminggu dia tak membaur bersama pensilnya. Aku hanya memperhatikannya dalam diam.
“Aku sedang patah hati,” jawabnya dengan senyum yang mengembang.
“Kau mengucapkan patah hati seperti baru mendapatkan hadiah kuis.” Setengah mati aku menahan tawaku.
Bagaimana mungkin orang yang patah hati bisa menampilkan raut ceria dan senyum maut seperti itu. Ini sudah salah kaprah dan di luar batas pemahaman.
Dia menangkap keganjilan dalam wajahku. “Mengelola rasa patah hati adalah salah satu kemampuanku,” sahutnya sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Jelas-jelas si rambut gondrong itu telah mencampakkanmu. Kau tak lebih dari tempat sampah bagi lelakimu itu, tapi kau selalu menempatkannya menjadi dewa hati.” Aku pun sekarang semakin yakin dan memperkuat asumsi yang pernah aku rakit dulu. “Ada tikus pengerat yang mengerikiti otaknya sampai membuatnya konslet.”
“Namanya B-A-M-A.” Terdengar ada penekanan di sana. “Bukan si rambut gondrong.” Tambahnya dengan memanyunkan bibir tipisnya. Inilah yang membuat dia semakin terlihat seksi.
“Inilah cinta sejati. Aku mencintainya tanpa pernah ia minta. Toh, ceritaku belum sampai pada titik. Mungkin masih koma. Apa yang akan terjadi esok atau lusa, kau tidak pernah tahu kan?” Sahabatku itu berceloteh tanpa jeda. “Seperti menebak langit abu-abu.” Dia mengangguk tanpa ada keraguan. Aku tahu dia hanya pura-pura kuat dan ceria.
“Aku sudah hafal adegan yang kau perankan itu. Aku tahu betapa setiap malam bantalmu basah karena hujan.” Aku mendumel dalam hati.
Aku mendekatinya. “Maukah kulukiskan hujan?”
“Kau tahu warnanya?” bening matanya memesona cakrawala.
“Mungkin seperti menebak langit abu-abu.”




[1] Aku sangat menyukaimu. Di dalam hatiku juga cuma ada kamu

0 Comments: