Untukmu yang mencintai hujan…
Lagi dan lagi. Aku merasa ingin
muntah setelah membaca surat-suratnya yang tak pernah sampai itu. Mataku kini
tersudut pada ending tulisannya yang
sangat rapi berjejeran. “Anata ga daisuki. Kokoro naka de anata mo dake[1].”
Sungguh bagiku sangatlah terdengar klise.
Hari ini aku dan dia kembali
dipertemukan dalam percakapan silang. Kita saling merapalkan satu persatu impian
yang sesak membanjiri pikiran. Perlahan menyelipkannya ke lembaran daun-daun
kering. Warnanya coklat. Aku sangat menyukai warna itu. Aku pun mengambil kuas
dan menggambar langit dengan warna cokelat di kanvasku. “Kenapa cokelat?” tanya
perempuan Jawa yang merasa dirinya tak memiliki bulu mata lentik itu dengan
logat british yang dibuat-buat. Aku
melirik perempuan itu dengan tatapan mulas dan ingin muntah sama seperti saat
membaca surat-surat dalam bahasa yang tak pernah saling kita mengerti satu sama
lain.
Kembali ke pertanyaan yang
dilontarkannya tadi. Harusnya dia tahu dan tidak perlu menanyakannya lagi.
Apalagi logat british yang keluar
dari bibir tipisnya itu membuat aku sangat ingin segera menumpahkan sebotol
minyak kayu putih ini ke ke rambut sebahunya yang hitam pekat. Dia memang
manusia yang terawat. Tapi, cukup hari
ini aku tidak ingin berdebat dengannya. “Aku bosan dengan biru,” jawabku
dengan nada datar.
Senja mulai menyibakkan elegant warnanya. Warna yang sangat
disukai oleh perempuan di sebelahku itu. Aku tidak pernah mengerti dan tidak
pernah mau mengerti untuk alasan apa dia sangat menyukai warna senja. Pun dia
yang juga selalu menertawakanku dengan cokelatku. Aku menggilai Andy Lau dia
menggilai Shah Rukh Khan. Aku mencintai kopi dia mencintai teh. Aku lebih
memilih menghabiskan weekend-ku untuk pergi ke bioskop menonton film action, sedangkan dia lebih memilih
bercumbu dengan pena, hujan dan dongeng yang sama sekali tidak aku “banget”
itu. Entahlah. Bagiku dia adalah perempuan paling gila yang pernah aku kenal.
Dan untuk entahlah juga kegilaan dan ketidaknyambungan inilah yang justru
membuat kita menjadi sahabat dekat. Tuhan memang selalu punya rencana dan
alasan untuk mempertemukan kita, bukan?
Sejenak hening. “Aku sudah lama tak
melihatmu menulis sajak.” Aku memutuskan untuk memulai percakapan.
Sudah seminggu dia tak membaur bersama
pensilnya. Aku hanya memperhatikannya dalam diam.
“Aku sedang patah hati,” jawabnya
dengan senyum yang mengembang.
“Kau mengucapkan patah hati
seperti baru mendapatkan hadiah kuis.” Setengah mati aku menahan tawaku.
Bagaimana mungkin orang yang patah
hati bisa menampilkan raut ceria dan senyum maut seperti itu. Ini sudah salah
kaprah dan di luar batas pemahaman.
Dia menangkap keganjilan dalam
wajahku. “Mengelola rasa patah hati adalah salah satu kemampuanku,” sahutnya
sambil menepuk-nepuk bahuku.
“Jelas-jelas si rambut gondrong
itu telah mencampakkanmu. Kau tak lebih dari tempat sampah bagi lelakimu itu,
tapi kau selalu menempatkannya menjadi dewa hati.” Aku pun sekarang semakin yakin
dan memperkuat asumsi yang pernah aku rakit dulu. “Ada tikus pengerat yang
mengerikiti otaknya sampai membuatnya konslet.”
“Namanya B-A-M-A.” Terdengar ada
penekanan di sana. “Bukan si rambut gondrong.” Tambahnya dengan memanyunkan
bibir tipisnya. Inilah yang membuat dia semakin terlihat seksi.
“Inilah cinta sejati. Aku
mencintainya tanpa pernah ia minta. Toh, ceritaku belum sampai pada titik.
Mungkin masih koma. Apa yang akan terjadi esok atau lusa, kau tidak pernah tahu
kan?” Sahabatku itu berceloteh tanpa jeda. “Seperti menebak langit abu-abu.”
Dia mengangguk tanpa ada keraguan. Aku tahu dia hanya pura-pura kuat dan ceria.
“Aku sudah hafal adegan yang kau
perankan itu. Aku tahu betapa setiap malam bantalmu basah karena hujan.” Aku
mendumel dalam hati.
Aku mendekatinya. “Maukah
kulukiskan hujan?”
“Kau tahu warnanya?” bening
matanya memesona cakrawala.
“Mungkin seperti menebak langit
abu-abu.”

0 Comments:
Post a Comment