Aku tidak pernah suka malam, ada mimpi buruk di bawah
bantal tidur yang mampu menyita menit demi menit yang kupunya untuk menahan
sengguk yang membuatku tersedak ke jurang kecewa. Padahal, aku ingin tidur
nyenyak tanpa ada racauan petir atau dering telepon.
Ruangan serba putih ini mengganggu mataku. “Kenapa bukan
merah atau merah muda?” aku menatapnya dengan tatapan iba.
“Istirahatlah,” Bara membujukku seperti menasihati anak
kecil yang nakal.
Demi apa pun, sebenarnya aku sudah ingin ambruk ke dalam pelukannya.
Menangis sejadi-jadinya di sana. Sosok yang telah lama kurindu dan
kuimpi-impikan setiap malam kini hadir di hadapanku. Lengkap dengan segala
pesonanya. Cepat aku mengatur pernapasan. Mengatur perasaan. Berusaha
membendung rasa rindu yang membuncah bak gelembung sabun yang sudah ingin pecah
ke permukaan wajah tampannya. Sekuat tenaga kutahan sengguk, ada gerimis tipis
yang saling bicara di dalam hati. Runtuh bersama ingin yang tak mungkin.
Kenyataan memang begitu. Tidak pernah sejalan dengan bulir demi bulir keinginan
yang tumpah pada lembar catatan.
Ada sebersit ngeri yang benar-benar mengerikan. Drama
ini. Aku terperosok dalam alurnya. Aku menjadi pihak yang lemah, yang tak
memiliki bargaining power. Sekarang
mataku tertumbuk pada perempuan berjilbab itu. Perempuan yang tak lagi asing
bagiku. Namanya Cahaya, tunangan Bara. Aku mencintai Bara. Bara mencintai
Cahaya. Begitulah kenyataannya. Pahit. Sepahit kopi tanpa gula.
“Bagaimana keadaanmu Tar?” tanya Cahaya.
“Kalian tidak usah terlalu memikirkanku. Aku akan
baik-baik saja.” Dan nyatanya memang, meracik senyum hangat tak pernah lebih
mudah dari menakar gula untuk dituangkan dalam secangkir kopi.
Sebelum cahaya kuberi kesempatan untuk meluncurkan
berbait-bait basa-basi yang hanya bisa membuat cuaca semakin tidak bersahabat.
Aku memilih untuk memuntahkan satu pertanyaan yang telah mengerat dan
meninggalkan beban berat yang mengikat. “Jadi, kapan kalian akan menikah?”
gerimis jatuh satu persatu membasahi hatiku. Tapi tetap dengan sekuat tenaga, aku
berusaha menyunggingkan senyum yang menawan dari yang paling menawan.
“Bulan depan. Pokoknya kamu harus, wajib, dan musti
datang ya, Nona jaipong.” Bara mengacak-acak rambutku. Dia memang begitu. Tidak
pernah sekali pun mau menyebut nama asliku. Terlalu biasa katanya.
Aku masih ingat saat-saat pertama kali kita bertemu dulu
dalam sebuah gebyar festival tari di Bangkok. Kebetulan aku adalah salah satu
delegasi dari unit tari kampus untuk mengikuti acara tersebut. Aku menarikan
tari jaipong. Dia fotografer.
Perjalanan singkat di Bangkok menjadi sebuah titik awal dimana
sebuah perjalanan baru siap untuk ditulis dalam sejarah hidupku dan hidupnya.
“Hai, Nona jaipong. Your
performance is really amazing.”
“Nona jaipong?” aku mengernyitkan dahi.
“Kenalin, Bara.”
Aku tertawa kemudian membalas uluran tangannya.
Memperkenalkan diriku dengan semanis dan sesopan mungkin. “Mentari.”
Aku tidak pernah percaya cinta pada pandangan pertama
sampai aku sendiri mengalaminya.
Tak peduli apakah ini luka atau bahagia
Biar kamu tahu
Rasa sedang tidak bisa berkompromi
Dan tertawalah
Pelangi melengkungkan garis warna
Yang mana warnamu?
Semoga aku
Karena mencintai adalah pilihan
Bangkok, Desember 2012
Perlahan, ingatan demi ingatan menyeruak ke permukaan.
Mengoyak pola awan. Kemudian diusik mendung. Lalu menjelmalah gerimis disusul
deras hujan yang mengoyak curahan kasmaran yang dirindukan tanah.
Aku sendiri sering tidak mengerti. Mengapa banyak orang
menyebut gerimis itu manis bahkan romantis? Mengapa banyak orang beranggapan
bahwa hujan itu indah bahkan mempesona? Bagiku, gerimis tetaplah gerimis. Dan
hujan tetaplah paku yang hanya menancapkan luka dalam setiap guyurannya.
“Malah ngelamun nih bocah.” Bara memorak-porandakan ragam
kenangan yang terangkum dalam ingatanku. Aku mulai dirayapi cemas yang
mendalam. Cemas akan mimpi-mimpi buruk yang menjadi nyata. Ketika skenario
perjalanan ini membuatku jauh darinya. Padahal aku masih ingin. Memandang
bening matanya. Terbius pesona senyumnya. Meringkuk dalam dada bidangnya. Aku
mencintainya. Sangat mencintainya.
“Kita berdua pamit dulu ya, Nona jaipong. Besok kita ke
sini lagi.”
“Kita? Cukup kamu aja, Bang. Jangan bawa dia.” Aku
membatin.
Gigil gerimis pun semakin bersemangat merembesi
kepingan-kepingan lara yang menghimpit dada.

0 Comments:
Post a Comment