Perempuan berbulu mata lentik itu
tak henti-hentinya membolak-balik buku dongengnya. Dari depan ke belakang. Dari
belakang ke depan. Begitu seterusnya. Terpancar ada raut gelisah menyelimuti
benaknya. Sudah satu jam ia duduk manis di depan komputer memandangi halaman
biru yang menampung milyaran curhatan orang yang lebih banyak tak dikenalnya
daripada yang dikenalnya. Ia terlihat kalang kabut karena kerlip hijau kecil
tak kunjung juga melingkari satu nama itu. “Dia hari ini tidak online,” pikirnya.
Ia mulai mengetik dan memperbarui
status facebook-nya. “Aku sedang berharap, tapi seperseribu
dari waktu yang kuhabiskan malah berujung pada lamunan.” Ia menekan post. Dengan linglung, ia berjalan
menuju pinggir jendela kemudian mengamati rintik demi rintik air yang tertambat
di kaca. Sejenak kemudian, dengan agak terkejut ia mendapati sebuah alert dari Yahoo Messenger. Ia kembali menghampiri komputernya.
Ari789:
BUZZ!
Paras muka perempuan itu berubah
seketika. Ada sekelumit getar yang bersorak gembira.
Putri_bintang:
Kemana aja? Kangen taaauk :p
Ari789:
Masih di kantor. Sibuk sama maket. Aku juga kangen. Kangen sama titik-titik air
segera menyapa Balikpapan :D
Putri_bintang: Aku
lagi sama apa yang kamu kangenin nih
Ari789: Titip
salam ke dia kalo gitu ya
Putri_bintang: Ke
aku?
Ari789:
Kalau yang itu sih langsung dilamar aja :p
Semua berawal dari sapaan.
Pertemuan dua hati yang tak pernah disengaja dan tak pernah diinginkan
sebelumnya. Tapi, bukankah pertemuan kita dengan siapa pun sudah menjadi bagian
dari skenario yang sudah dirancang-Nya?
Pipi perempuan itu bersemu merah,
bukan karena blush on. Tergila-gila
pada seorang yang maya? Ah… entahlah ia sendiri tidak tahu.
***
Ben termangu mendengar celoteh
demi celoteh perempuan di hadapannya itu. Perempuan yang sangat ia puja, ia
kagumi, ia banggakan dan ia gilai hingga batas gila habis sudah.
“Aku akan segera bertemu
dengannya. Lusa aku ikut kamu ke Balikpapan ya.”
Ada sebersit cemas yang menjalar
cepat ke hati Ben. Bukan karena cemburu. Tetapi lebih dari itu. Hal yang
sungguh sangat sulit dijelaskan. Ben tidak tahu harus memulainya dari mana.
“Ben, kamu dengerin aku nggak
sih?”
“Put, kalau semisal ternyata aku
adalah dia apakah kamu juga akan tetap mencintaiku seperti kamu mencintai dia?”
dengan terbata-bata Ben melontarkan pertanyaan itu.
“Ngawur kamu, Ben.”
***
Langit tersengal-sengal mencoba membendung mendung
Tak boleh ada secuil pun celah bagi kabut kepedihan
Apalagi membiarkannya tergerus petir lalu kehilangan makna
Bukankah hanya butuh satu detik untuk menjadi asing?
Putri menyemprot Ben
habis-habisan, seakan tiada lagi ampun bagi sekotak permainan yang dirancang
oleh sahabatnya itu. Permainan hati. Hati bukan untuk dipermainkan.
“Memang inilah kenyataanya Put.
Aku mencintaimu.”
Cukup Ben. Cukup.
“Aku tidak pernah bermaksud
mempermainkanmu. Aku tidak seperti yang kamu tudingkan. Aku tidak pernah
merancangnya. Skenario itu. Ah… aku tidak bermaksud membohongimu.”
Cukup Ben. Aku tak mau dengar apa-apa lagi.
“Put, Maaf..” Ben meraih tangan Putri
mencoba meyakinkan.
“Ini sinting. Ini gila. Lelucon
apa ini Ben? Ari adalah Ben. Ben adalah Ari. Ini tidak mungkin. Kamu pasti
bohong. Bilang kalau kamu bohong!” Bentak Putri dengan tatapan tak percaya.

0 Comments:
Post a Comment