Dia bicara tanpa spasi. Tanpa
spasi, buatku tak mengerti. Dia melangkah tanpa jeda, padahal aku butuh jeda
untuk memahami. Dia menciptakan dongengnya sendiri tanpa pernah membiarkan aku
masuk dalam dunia yang sering dia lamunkan. Aku bisa apa?
“Biar kuantar kamu pulang.” Aku mendekatinya.
Dia masih asik berkutat pada langitnya. Entahlah apa yang dia selalu cari di
sana. “Aku tak cukup mampu mengubah warna langit senja menjadi biru.” Begitu
selalu ucapnya. Aku tak cukup paham. Selalu butuh usaha ekstra untuk mencerna
apa yang dia ucapkan. Apa yang selama ini dia lamunkan.
“Ben?” dia memanggilku dengan
halus. Sehalus sutra ditenun ulat. Aku selalu suka cara dia mengucapkan namaku.
“Namaku Buen, bukan Ben.” Aku selalu membatin. Tapi dia selalu membuang huruf
“U” yang terselip dalam namaku. Dan hanya mau memanggilku dengan Ben. Bukan
Buen. Tak apa-apa. Tak masalah. Sepanjang itu terucap dari bibirnya, aku sama
sekali tak keberatan.
“Kamu tahu mengapa aku sangat
suka biru?”
“Karena kamu suka laut.”
Dia tersenyum. Manis sekali.
Melebihi gula. Ah… aku sangat suka senyumnya. Bulu mata lentiknya. Hidung
mancungnya. Rambut hitam sebahunya. Caranya menyeruput kopi. Kebiasannya
menggosok gigi lebih lama. Mendengarkan khayalan-khayalan gilanya sampai omelan
berjam-jamnya kala mendapati bulpennya hilang, ban sepedanya bocor sampai
ketika langitnya hujan.
“Lebih dari itu, Ben.” Dia
menempelkan kedua tangannya ke pipiku. Dua detik. Tapi sangatlah berarti. Dia
menatapku gemas dan seperti biasanya dia akan sibuk menjelaskan panjang lebar.
Inilah bagian yang paling aku tunggu-tunggu di sepanjang kebersamaanku bersama
dia. Aku bahkan tak pernah bosan mendengarkannya bercerita semalam suntuk.
Sejenak kemudian, dia melontarkan
pertanyaan yang tak pernah kubayangkan akan terlontar dari bibir mungilnya yang
dioles tipis lipstick berwarna peach itu.
“Kamu pernah jatuh cinta, Ben?”
Aku tidak segera menjawabnya.
Diulanginya pertanyaannya sekali lagi seakan takut tiba-tiba aku terserang
virus budek.
“Saat ini,” aku menjawab ringan.
“Sudah diungkapkan?” dia bertanya
lagi.
“Aku takut dia akan menjauh saat
tahu aku mencintainya. Begini saja sudah cukup. Asal bisa bersamanya.”
“Kamu takut jatuh cinta
sendirian?” kali ini dia menertawakanku. Menertawakan apa yang sebenarnya
sangat tidak lucu.

0 Comments:
Post a Comment