Friday, 1 March 2013

Diam-Diam Mencintaimu (1)


Dia bicara tanpa spasi. Tanpa spasi, buatku tak mengerti. Dia melangkah tanpa jeda, padahal aku butuh jeda untuk memahami. Dia menciptakan dongengnya sendiri tanpa pernah membiarkan aku masuk dalam dunia yang sering dia lamunkan. Aku bisa apa?
“Biar kuantar kamu pulang.” Aku mendekatinya. Dia masih asik berkutat pada langitnya. Entahlah apa yang dia selalu cari di sana. “Aku tak cukup mampu mengubah warna langit senja menjadi biru.” Begitu selalu ucapnya. Aku tak cukup paham. Selalu butuh usaha ekstra untuk mencerna apa yang dia ucapkan. Apa yang selama ini dia lamunkan.
“Ben?” dia memanggilku dengan halus. Sehalus sutra ditenun ulat. Aku selalu suka cara dia mengucapkan namaku. “Namaku Buen, bukan Ben.” Aku selalu membatin. Tapi dia selalu membuang huruf “U” yang terselip dalam namaku. Dan hanya mau memanggilku dengan Ben. Bukan Buen. Tak apa-apa. Tak masalah. Sepanjang itu terucap dari bibirnya, aku sama sekali tak keberatan.
“Kamu tahu mengapa aku sangat suka biru?”
“Karena kamu suka laut.”
Dia tersenyum. Manis sekali. Melebihi gula. Ah… aku sangat suka senyumnya. Bulu mata lentiknya. Hidung mancungnya. Rambut hitam sebahunya. Caranya menyeruput kopi. Kebiasannya menggosok gigi lebih lama. Mendengarkan khayalan-khayalan gilanya sampai omelan berjam-jamnya kala mendapati bulpennya hilang, ban sepedanya bocor sampai ketika langitnya hujan.
“Lebih dari itu, Ben.” Dia menempelkan kedua tangannya ke pipiku. Dua detik. Tapi sangatlah berarti. Dia menatapku gemas dan seperti biasanya dia akan sibuk menjelaskan panjang lebar. Inilah bagian yang paling aku tunggu-tunggu di sepanjang kebersamaanku bersama dia. Aku bahkan tak pernah bosan mendengarkannya bercerita semalam suntuk.
Sejenak kemudian, dia melontarkan pertanyaan yang tak pernah kubayangkan akan terlontar dari bibir mungilnya yang dioles tipis lipstick berwarna peach itu.
“Kamu pernah jatuh cinta, Ben?”
Aku tidak segera menjawabnya. Diulanginya pertanyaannya sekali lagi seakan takut tiba-tiba aku terserang virus budek.
“Saat ini,” aku menjawab ringan.
“Sudah diungkapkan?” dia bertanya lagi.
“Aku takut dia akan menjauh saat tahu aku mencintainya. Begini saja sudah cukup. Asal bisa bersamanya.”
“Kamu takut jatuh cinta sendirian?” kali ini dia menertawakanku. Menertawakan apa yang sebenarnya sangat tidak lucu.

0 Comments: