Friday, 1 March 2013

Dear Rama


Aku selalu menghabiskan soreku di Pantai Melawai. Di sana aku bisa melihat sunset terbaik di Balikpapan. Tetapi ada sesuatu yang tidak biasa dengan soreku kali ini. Perempuan bermata bulat itu, aku seperti pernah berpapasan dengannya. Tapi di mana? Aku mengamatinya beberapa detik. Dia tampak cantik dengan dress selutut yang berwarna senada dengan kulitnya. Putih.
“Kau tidak ingat denganku?” tanyanya seperti ingin menelanku. Aku mulai tidak suka dengan mata bulatnya.
Kali ini bibirnya semakin siap untuk memanah. Kata-katanya siap untuk dilayarkan, “Jangan membuatnya jatuh cinta padamu.” Aku sama sekali belum tahu ke mana arah pembicaraannya. Aku menunggu sekuel kalimatnya. Tapi dia sejenak bisu. Matanya menerawang jauh ke arah laut yang biru.
“Kamu cantik dan… ”  Suaranya memantul ke permukaan laut. Sengaja digantung. Kemudian pamit dengan mata berkaca-kaca.
Cantik? Dia bahkan tak pernah bilang seperti itu padaku. Aku hanyalah tukang dongeng baginya.

***
Can you explain this all to me?

Sent to: Rama

Resah terasa tak berujung. Hari ini aku membawa pulang sederet pertanyaan yang hanya bisa kureka-reka sendiri jawabannya. Tentang siapa perempuan bermata bulat itu. Kenapa dia menginginkanku untuk menjauhi Rama?
***
Aku mengerti, akhir-akhir ini Rama memang sedang sibuk dengan konsernya. Aku pun paham benar apa arti kata sibuk bagi seorang pianis hebat sepertinya. Setelah kuhitung-hitung sudah dua minggu ini dia tidak pernah kelihatan. Dia tidak pernah lagi menemaniku melihat sunset. Pun pesan singkat yang kulayangkan padanya tak ada satu pun yang berbalas. Termasuk pesan yang baru saja aku kirim. Sebagai gantinya, perempuan bermata bulat itu. Aku harus mencari tahu siapakah dia sebenarnya.
Lalu seperti biasanya, aku menceritakan semuanya pada Mama.
“Bagaimana mungkin dia memasukkanmu dalam daftar sibuknya?” Mama melirikku dengan tatapan penuh arti. Aku semakin curiga ada yang tidak beres. Mama pasti tahu tentang semua ini. Tentang perempuan itu. Tentang Rama yang entah ke mana. Tentang keganjilan yang tak pernah kuinginkan ada.
Tidak ada waktu untuk berbasa-basi. Aku menyerbu Mama dengan sederet pertanyaan yang berseliweran di benakku. Getir sekali mendengar jawaban Mama. Ternyata sebelum mendatangiku, perempuan bermata bulat itu telah lebih dahulu mendatangi Mama.
Aku sangat kesal dan ingin sekali menyanggah kata-kata Mama. Bagaimana mungkin Rama berbuat setega itu padaku?
“Namanya Laila,” tegas Mama. “Rama sudah beristri sayang.” Sambungnya.
Aku terkulai. Sesak. Perih. Kecewa. Marah.
Ponselku berdering. Sebuah pesan masuk.
I’ll explain to you as soon as possible. Setelah konser ini selesai. Aku akan pulang, untukmu. I love you.

Sent by: Rama
Aku langsung membalasnya.
Sekarang tidak lagi perlu. Aku pamit. Semoga bahagia.

Sent to: Rama

0 Comments: