Aku selalu menghabiskan soreku di
Pantai Melawai. Di sana aku bisa melihat sunset
terbaik di Balikpapan. Tetapi ada sesuatu yang tidak biasa dengan soreku kali
ini. Perempuan bermata bulat itu, aku seperti pernah berpapasan dengannya. Tapi
di mana? Aku mengamatinya beberapa detik. Dia tampak cantik dengan dress selutut yang berwarna senada
dengan kulitnya. Putih.
“Kau tidak ingat denganku?”
tanyanya seperti ingin menelanku. Aku mulai tidak suka dengan mata bulatnya.
Kali ini bibirnya semakin siap
untuk memanah. Kata-katanya siap untuk dilayarkan, “Jangan membuatnya jatuh
cinta padamu.” Aku sama sekali belum tahu ke mana arah pembicaraannya. Aku
menunggu sekuel kalimatnya. Tapi dia sejenak bisu. Matanya menerawang jauh ke
arah laut yang biru.
“Kamu cantik dan… ” Suaranya memantul ke permukaan laut. Sengaja
digantung. Kemudian pamit dengan mata berkaca-kaca.
Cantik? Dia bahkan tak pernah bilang seperti itu padaku. Aku hanyalah
tukang dongeng baginya.
***
Can you explain this all to me?
Sent to: Rama
Resah terasa tak berujung. Hari
ini aku membawa pulang sederet pertanyaan yang hanya bisa kureka-reka sendiri
jawabannya. Tentang siapa perempuan bermata bulat itu. Kenapa dia menginginkanku untuk menjauhi Rama?
***
Aku mengerti, akhir-akhir ini
Rama memang sedang sibuk dengan konsernya. Aku pun paham benar apa arti kata
sibuk bagi seorang pianis hebat sepertinya. Setelah kuhitung-hitung sudah dua
minggu ini dia tidak pernah kelihatan. Dia tidak pernah lagi menemaniku melihat
sunset. Pun pesan singkat yang kulayangkan
padanya tak ada satu pun yang berbalas. Termasuk pesan yang baru saja aku
kirim. Sebagai gantinya, perempuan bermata bulat itu. Aku harus mencari tahu
siapakah dia sebenarnya.
Lalu seperti biasanya, aku
menceritakan semuanya pada Mama.
“Bagaimana mungkin dia
memasukkanmu dalam daftar sibuknya?” Mama melirikku dengan tatapan penuh arti.
Aku semakin curiga ada yang tidak beres. Mama pasti tahu tentang semua ini.
Tentang perempuan itu. Tentang Rama yang entah ke mana. Tentang keganjilan yang
tak pernah kuinginkan ada.
Tidak ada waktu untuk
berbasa-basi. Aku menyerbu Mama dengan sederet pertanyaan yang berseliweran di
benakku. Getir sekali mendengar jawaban Mama. Ternyata sebelum mendatangiku,
perempuan bermata bulat itu telah lebih dahulu mendatangi Mama.
Aku sangat kesal dan ingin sekali
menyanggah kata-kata Mama. Bagaimana mungkin Rama berbuat setega itu padaku?
“Namanya Laila,” tegas Mama.
“Rama sudah beristri sayang.” Sambungnya.
Aku terkulai. Sesak. Perih.
Kecewa. Marah.
Ponselku berdering. Sebuah pesan
masuk.
I’ll explain to you as soon as possible. Setelah konser ini selesai. Aku
akan pulang, untukmu. I love you.
Sent by: Rama
Aku langsung membalasnya.
Sekarang tidak lagi perlu. Aku pamit. Semoga bahagia.
Sent to: Rama

0 Comments:
Post a Comment