Aku terperangkap dalam kotak musik, membaur bersama bunyi
yang hanya bisa membuat batin tersiksa. “Sampai kapan kamu akan begini?” dia
menatap mataku lekat-lekat, digesernya tubuhnya untuk lebih dekat padaku.
“Butuh mengalami untuk mengerti Dik.” Mendengarnya, dia
semakin ingin mengomel padaku. Aku yang menurutnya buta karena cinta yang hanya
kureka-reka sendiri. Hatinya sudah ingin berontak dan dirinya sudah ingin
minggat.
“Dika…,” panggilku saat dia sudah ingin beranjak pergi
dari sisiku. Aku sama sekali tak berniat menyinggung perasaannya. Aku tahu
bagaimana perasaannya padaku. Dia sangat perhatian. Perhatiannya melebihi siapa
pun yang pernah aku kenal di dunia ini.
Lelaki yang tak asing lagi dalam hari-hariku itu menoleh.
“Kamu pikir aku mau terjebak dalam skenario perjalanan memuakkan ini? aku lelah
dan ingin muntah.” Aku sibuk meracau sementara matanya malah menatapku lucu.
Dika memegang pundakku mencoba meyakinkan. “Tolong
dengarkan aku kali ini, Ar.”
Aku hanya terdiam menunggu dia meneruskan kata-katanya.
“Kau hanya perlu menghanyutkannya ke kali,” ucapnya menginfeksi cemas yang
terjerembab kaku di ruas-ruas jalan yang basah, sisa hujan kemarin.
Perih menusuk mataku tanpa jeda, tanpa irama, tanpa ada
negosiasi apalagi aliansi. Ini sinting. Ini tidak mungkin. Bagaimana bisa
dugaanku melesat?
“Aku sangat mencintainya,” gumamku pelan.
“Kamu pernah bertemu dengannya?” aku menggeleng. “Kamu
pernah melihat gambar rupanya?” aku menggeleng lagi. Dia sibuk bertanya. Aku
sibuk menggeleng. Puncaknya, dalam percakapan terakhir yang dilontarkannya, dia
menaikkan intonasi bicaranya. Aku tak pernah melihat Dika semarah ini.
“Kamu buta. Kamu hanya mencintai ilusi. Kamu pelihara beban
pikiran yang sebenarnya tidak pernah perlu.”
Aku menantang matanya. “Aku tahu. Aku yakin. Aku percaya.
Biar pun kedatangannya hanya lewat mimpi. Cepat atau lambat dia akan
menghampiriku. Di sini. Di halte ini.” Aku berusaha membela diri.
“Kekasih impian? Buku dongeng? Pangeran berkuda putih?
Apa lagi? Kamu bukan hidup di dunia khayal Ar. Kamu hidup di sini. Di dunia
bernama realitas. Di dunia, tempat kamu harus membatasi bahkan menyudahi semua
khayalan-khayalan gilamu itu.”
Rasanya sudah ingin kusumpal mulutnya dengan bongkahan es
agar membeku. Aku tak tinggal diam. Sudah menjadi kebiasaan kami untuk berdebat
masalah yang tak bisa dipahami oleh siapa pun ini. Setiap sore. Di waktu yang
sama. Di tempat yang sama. Kami sudah menjalani ritual ini selama 15 hari,
resmi semenjak aku mendapatkan mimpi itu. “Khayalan gila? Sejak kapan khayalan
itu dibatasi?”
“Sejak kita belajar teori, konsep dan paradigma.” Dia
menjawab cepat.
Perlahan sesakku mulai mengabur saat tangannya mengusap
lembut pipiku seakan tak membiarkan ada setetes pun rubungan air mata di sana.
“Untuk apa jauh-jauh mencari penawar pilu,” bisiknya merdu.
“Tiara, Cuma aku yang mengerti kamu. Bukan dia. Dia yang
tak pernah memikirkanmu. Dia yang tak pernah ada. Dia yang hanya kamu cipta
dalam alam lamunanmu.” Dika berlutut di depanku. Percakapan sore itu selesai.
Aku merenung. Lama. Berbulan-bulan. Berbulan-bulan itu
pula aku tidak bertemu dengannya. Ternyata aku rindu. Aku rindu pada Dika,
sahabatku. Aku rindu dengan dia, manusia paling rasional yang pernah aku temui.
Mulai sekarang aku sudah kembali menjadi aku. Bukan aku
yang terjebak dalam kotak musik itu. Dan aku sadar, memang ada dunia yang indah
di sekelilingku. Ada langit biru, pelangi, debur ombak, pasir putih, senandung
cinta, dan dia, yang selalu ada untukku, bahkan di saat racauanku naik level.
Aku pun mulai sepakat dan membenarkan segala ucapannya yang dulu. Aku hanya
tidak perlu larut dalam pilu yang sedetik pun tidak pernah memikirkanku balik.
“Jadi, maukah membangun aliansi bernama penawar piluku?
Jika mau, jabatlah tanganku.” Aku memutuskan untuk menemuinya lebih dulu. Bukan
lagi di halte. Tapi, di biro konsultannya.

0 Comments:
Post a Comment