Ada yang bersanding dengan
cakrawala, di puncak ini
Ada yang ingin tumpah dari
penantian sana
Selaksa biji-biji hujan yang
meraung kehausan
Di antara titik dan lengkung
catatan
Yang sengaja di guratkan dengan
pecah kaca yang basah
Merah yang merah, semerah luka,
tak terbaca
Cericit burung di ketiak pinus
Meraba tanya, pucuk-pucuk, apakah
kuncup atau hijau baru
Alam merintik lagi, haruskah
menjadi setangkai teduh atau mungkin bah
Kemudian petang yang jalang
Meluruhkan sekelumit serak yang
menggantung di bibir malam
Seikat edelweis, angin yang
melangu di sapu dingin
Hangat perapian pun semakin
tempias digenangi kabut yang mengabu
Adakah kepergian kembali pulang, membawa
pasti kerinduan
Hingga sepercik aku tersihir
harum, kembang gula yang gerimis
Dari angin yang mencium dedaunan,
yang paling memesona
(Reposting, Malang 2011)

0 Comments:
Post a Comment