Tuesday, 12 February 2013

Kala Itu

Ada yang bersanding dengan cakrawala, di puncak ini

Ada yang ingin tumpah dari penantian sana
Selaksa biji-biji hujan yang meraung kehausan
Di antara titik dan lengkung catatan
Yang sengaja di guratkan dengan pecah kaca yang basah
Merah yang merah, semerah luka, tak terbaca

Cericit burung di ketiak pinus
Meraba tanya, pucuk-pucuk, apakah kuncup atau hijau baru
Alam merintik lagi, haruskah menjadi setangkai teduh atau mungkin bah
Kemudian petang yang jalang
Meluruhkan sekelumit serak yang menggantung di bibir malam

Seikat edelweis, angin yang melangu di sapu dingin
Hangat perapian pun semakin tempias digenangi kabut yang mengabu
Adakah kepergian kembali pulang, membawa pasti kerinduan
Hingga sepercik aku tersihir harum, kembang gula yang gerimis
Dari angin yang mencium dedaunan, yang paling memesona


(Reposting, Malang 2011)

0 Comments: