Tuesday, 12 February 2013

Sekuel Januari


“Adakah aku di sana? Perlukah aku menatap tunggu di sana?”

Awan kelabu gamang meraba-raba potongan kalimat itu
Raut rembulan tersandung murung
Disesaki imaji-imaji yang terdengar picisan
Ingatkah wahai Desemberku?
Rapuh tak hanya berarti usai
Tetapi juga titik pertemuan setiap sekuel yang perlu ditunggu

Pada serat-serat benci yang menumpuki kelam langitmu
Selalu saja ada seiris jujur yang tumpah bersama siraman hujan
Meski terkadang seonggok bosan menginginkan berhenti
Aku yang mengalami apa yang kamu alami
Yang menginginkan pertemuanmu dengan bintang selatan

Sebuah desiran yang tak kukenali merayapi tulisan tak berspasi
Seharusnya aku tak perlu bertanya lagi
Pun kamu dan berserakan getir satire
Kita bisa cipta bersama sekuel dari kalimat tanya itu
“Januari? Ya, Januari.”


Malang, Januari 2013

0 Comments: