“Adakah aku di sana? Perlukah aku menatap tunggu di sana?”
Awan kelabu gamang meraba-raba
potongan kalimat itu
Raut rembulan tersandung murung
Disesaki imaji-imaji yang
terdengar picisan
Ingatkah wahai Desemberku?
Rapuh tak hanya berarti usai
Tetapi juga titik pertemuan
setiap sekuel yang perlu ditunggu
Pada serat-serat benci yang
menumpuki kelam langitmu
Selalu saja ada seiris jujur yang
tumpah bersama siraman hujan
Meski terkadang seonggok bosan
menginginkan berhenti
Aku yang mengalami apa yang kamu
alami
Yang menginginkan pertemuanmu
dengan bintang selatan
Sebuah desiran yang tak kukenali
merayapi tulisan tak berspasi
Seharusnya aku tak perlu bertanya
lagi
Pun kamu dan berserakan getir
satire
Kita bisa cipta bersama sekuel
dari kalimat tanya itu
“Januari? Ya, Januari.”

0 Comments:
Post a Comment