I
Musim gugur menerbangkan selaksa
rindu kau-aku yang menahun terbungkus rapat oleh tangkai huruf yang membingkai
tungkai. “Kenapa kau tinggalkan kami?” tanyaku dengan tak bisa menyembunyikan
desis angin yang menyungkurkan kemilau nyala lilin di mataku. Padam seketika.
Di antara dedaunan yang bisik,
gemerisik angin pun mengabukan debu-debu. Hingga tersudutlah ke remah-remah
cahaya. Lalu terseret. Jatuh. Menetes sepi.
II
Waktu terus mengeja hari. Detik
mengeja yakin. Menit mengeja percaya. Pun jam-jam tak terhitung itu, tak pernah
bosan mengajarkan aku tentang mengeja paham. Waktu pulalah yang mengantarkan
kau-aku pada pergantian musim.
Wahai musim hujan yang kuyup: yang membuat basah mata. Doa-doa di
antara dentingan kosong-kosong tiga belum sempat kutengadahkan. Tetapi mengapa kau
telah lebih dulu melesat dengan keretamu? “Aku bahkan masih ingin jamaah
subuh.”
“Kau tak perlu mengantarku dan
menyempatkan duduk di bangku peron stasiun Tugu,” katamu.
III
Ketika selaksa rindu makin menebar syahdu. Dan air mata hanya bisa
kukubangkan di pinggir rel tua.
Musim kemarau adalah musim
paceklik dimana aku sudah harus cukup mandiri, menumpuk sendiri, balok-balok
mimpi tanpa petuahmu. Kuning kunang-kunang pun diantar debur angin. Kudengar
suaramu yang serak. Katamu hidup adalah puisi. Kita tak akan pernah bisa
berhenti menulis dan membacakan sajak.
IV
Aku tahu kau bukan malaikat. Kau
tak bersayap. Tak bisa terbang. Dan kakimu menginjak tanah. Aku pun juga tahu
kau bukan perempuan yang menyulam pelangi. Kau bahkan tak pernah membacakan
dongeng putri tidur untukku kala musim semi.
Lembayung mencumbu mesra bibir
langit. “Aku telah bertemu pangeran itu.” akan tetap kutitipkan pesan ini pada
ranting pohon padamu. Suatu saat nanti.
V
Lintingan cengkeh. Buih kopi.
Kemana (kah?)
Musim hujan sudah datang lagi.
“Kami merindukan hangat pelukmu.”
Malang, Januari 2013

0 Comments:
Post a Comment