Tuesday, 12 February 2013

Selaksa Rindu


I
Musim gugur menerbangkan selaksa rindu kau-aku yang menahun terbungkus rapat oleh tangkai huruf yang membingkai tungkai. “Kenapa kau tinggalkan kami?” tanyaku dengan tak bisa menyembunyikan desis angin yang menyungkurkan kemilau nyala lilin di mataku. Padam seketika.
Di antara dedaunan yang bisik, gemerisik angin pun mengabukan debu-debu. Hingga tersudutlah ke remah-remah cahaya. Lalu terseret. Jatuh. Menetes sepi.
II
Waktu terus mengeja hari. Detik mengeja yakin. Menit mengeja percaya. Pun jam-jam tak terhitung itu, tak pernah bosan mengajarkan aku tentang mengeja paham. Waktu pulalah yang mengantarkan kau-aku pada pergantian musim.
Wahai musim hujan yang kuyup: yang membuat basah mata. Doa-doa di antara dentingan kosong-kosong tiga belum sempat kutengadahkan. Tetapi mengapa kau telah lebih dulu melesat dengan keretamu? “Aku bahkan masih ingin jamaah subuh.”
“Kau tak perlu mengantarku dan menyempatkan duduk di bangku peron stasiun Tugu,” katamu.
III
Ketika selaksa rindu makin menebar syahdu. Dan air mata hanya bisa kukubangkan di pinggir rel tua.
Musim kemarau adalah musim paceklik dimana aku sudah harus cukup mandiri, menumpuk sendiri, balok-balok mimpi tanpa petuahmu. Kuning kunang-kunang pun diantar debur angin. Kudengar suaramu yang serak. Katamu hidup adalah puisi. Kita tak akan pernah bisa berhenti menulis dan membacakan sajak.
IV
Aku tahu kau bukan malaikat. Kau tak bersayap. Tak bisa terbang. Dan kakimu menginjak tanah. Aku pun juga tahu kau bukan perempuan yang menyulam pelangi. Kau bahkan tak pernah membacakan dongeng putri tidur untukku kala musim semi.
Lembayung mencumbu mesra bibir langit. “Aku telah bertemu pangeran itu.” akan tetap kutitipkan pesan ini pada ranting pohon padamu. Suatu saat nanti.
V
Lintingan cengkeh. Buih kopi. Kemana (kah?)
Musim hujan sudah datang lagi. “Kami merindukan hangat pelukmu.”


Malang, Januari 2013

0 Comments: