Sampaikan kepada dia, sebaris pesan cinta yang kutulis,
kulipat menjadi perahu kertas, kulayarkan ke kali. Suratku, menggelepar-lepar
bagai ikan yang menenteng senyum tak
sabar bertemu dengan rajanya. Sesekali, suratku tersangkut di batang pohon yang terbuang,
dan terpegoklah ia oleh katak kecil bermata nanar: jangan kau baca isinya.
Bukan untuk kamu. Ini rahasia.
Kala hujan, ada satu hal yang dicemaskan: bagaimana kalau
tulisan tanganku luntur, bagaimana kalau lumut-lumut hijau yang tidak tahu
aturan itu menempeli suratku, bagaimana kalau pesanku tak akan bisa lagi terbaca.
“suratku pasti akan kesal, menjerit-jerit
tak keruan”.
Melaju. Terhuyung-huyung. Ditiup angin. Sempoyongan. Didatangi gerimis. Menangis. Ditotol itik. Robek. Terkena lumpur. Kata mengabur.
Kena banjir. Tenggelam. Dipungut bocah-bocah kecil. Duh jangan.
Hai suratku, berjuanglah!
Malang, 11 November 2012

0 Comments:
Post a Comment