Tuesday, 12 February 2013

Suratku

Sampaikan kepada dia, sebaris pesan cinta yang kutulis, kulipat menjadi perahu kertas, kulayarkan ke kali. Suratku, menggelepar-lepar bagai ikan yang menenteng senyum  tak sabar bertemu dengan rajanya. Sesekali, suratku tersangkut di batang pohon yang terbuang, dan terpegoklah ia oleh katak kecil bermata nanar: jangan kau baca isinya. Bukan untuk kamu. Ini rahasia.


Kala hujan, ada satu hal yang dicemaskan: bagaimana kalau tulisan tanganku luntur, bagaimana kalau lumut-lumut hijau yang tidak tahu aturan itu menempeli suratku, bagaimana kalau pesanku tak akan bisa lagi terbaca. “suratku pasti akan kesal, menjerit-jerit tak keruan”.

Melaju. Terhuyung-huyung. Ditiup angin. Sempoyongan. Didatangi gerimis. Menangis. Ditotol itik. Robek. Terkena lumpur. Kata mengabur. Kena banjir. Tenggelam. Dipungut bocah-bocah kecil. Duh jangan.

Hai suratku, berjuanglah!

Malang, 11 November 2012


0 Comments: