Tuesday, 12 February 2013

Perihal Diam Yang Tak Berarti Diam


Pada sederet angka yang tertahan hujan
Sekelebat ingin buyar merunut setapak jalan
Hingga kata pun rasa serupa gelitik petir
Lumpuhkan senja yang mulai dibias temaram
Dan pelangi sibuk menekan tombol tunda

Ada getar yang merayakan sulutan sepercik api
Lalu menjalar menciumi daun, ranting hingga akar
Usailah, cetak biru hangus menjadi abu
Lembar-lembar sketsa hanya mau mencetak rupamu

Kepada entah aku hantarkan ribuan pertanyaan
Hujan pun tak henti-hentinya kumaki
Langitku semakin kumal diseruduk keparat
Menelanjangi inci demi inci waras
Dan sia-sia: denyut ini tetap tak mampu disumbat

Ketika diam tak benar berarti diam
Membelenggu hening yang dingin
Menguras lelah akan amarah
Kemudian larut di ruang tak bernama
: adakah aku di sana?


 Malang, Desember 2012

0 Comments: