Pada sederet angka yang tertahan hujan
Sekelebat ingin buyar merunut setapak jalan
Hingga kata pun rasa serupa gelitik petir
Lumpuhkan senja yang mulai dibias temaram
Dan pelangi sibuk menekan tombol tunda
Ada getar yang merayakan sulutan sepercik api
Lalu menjalar menciumi daun, ranting hingga akar
Usailah, cetak biru hangus menjadi abu
Lembar-lembar sketsa hanya mau mencetak rupamu
Kepada entah aku hantarkan ribuan pertanyaan
Hujan pun tak henti-hentinya kumaki
Langitku semakin kumal diseruduk keparat
Menelanjangi inci demi inci waras
Dan sia-sia: denyut
ini tetap tak mampu disumbat
Ketika diam tak benar berarti diam
Membelenggu hening yang dingin
Menguras lelah akan amarah
Kemudian larut di ruang tak bernama
: adakah aku di sana?
Malang, Desember 2012

0 Comments:
Post a Comment