Tuesday, 12 February 2013

Secangkir Isyarat


Kuterka tamparan hujan sore itu dengan merangkai kembali keping kata yang berantakan oleh kabut hingga tangkai demi tangkainya mengiring basah aku untuk mendentingkan seutas getir rasa yang kau tata rapi di antara  komposisi nada dan simfoni yang memukau. Kaukah yang kemarin datang memayungiku kala rintik-rintik itu menyapu sudut cemasku? Aku memandangmu kembali untuk alasan yang tak mau kukenali. Dari hari, minggu, sampai bulan-bulan menjemukan.

Debur angin, dingin cuaca, beku aksara, kedap suara meraba tanda pertautan hati. Pun manis goresan pena dan sepotong cerita yang dibawa hujan mencuat mesra di antara tingkah langit yang mulai ribut sendiri, mencuri pandang cakrawala hingga nanti tiba saatnya tungku perasaan siap memanggul hangat dan teduh kalbu mencacah deras jeram yang mencengkeram gemuruh di tiap bentangan jarak. Bisakah kita menyeberang bersama-sama? Menjadi dekat, rekat dan erat.

Mungkin saja aku terlanjur salah mengeja isyarat. Lama-lama mengkristal, bersaput air. Harusnya aku sudah menyingkir di delapan menit sebelum keberangkatan. Tapi warnamu tak mau dipersamar hingga keheningan pun menjadi indah terdengar. Benar (kah?) ini adanya, hujan bersimpangan dengan teduh. lidahku kelu. Pun angin tak hanya sekedar dari kiasan yang tak perlu kita mengerti maknanya. “Aku kehilangan kamu.”


Malang, Januari 2013

0 Comments: