Kuterka tamparan hujan sore itu
dengan merangkai kembali keping kata yang berantakan oleh kabut hingga tangkai
demi tangkainya mengiring basah aku untuk mendentingkan seutas getir rasa yang
kau tata rapi di antara komposisi nada
dan simfoni yang memukau. Kaukah yang kemarin datang memayungiku kala
rintik-rintik itu menyapu sudut cemasku? Aku memandangmu kembali untuk alasan
yang tak mau kukenali. Dari hari, minggu, sampai bulan-bulan menjemukan.
Debur angin, dingin cuaca, beku
aksara, kedap suara meraba tanda pertautan hati. Pun manis goresan pena dan sepotong
cerita yang dibawa hujan mencuat mesra di antara tingkah langit yang mulai
ribut sendiri, mencuri pandang cakrawala hingga nanti tiba saatnya tungku
perasaan siap memanggul hangat dan teduh kalbu mencacah deras jeram yang
mencengkeram gemuruh di tiap bentangan jarak. Bisakah kita menyeberang
bersama-sama? Menjadi dekat, rekat dan erat.
Mungkin saja aku terlanjur salah
mengeja isyarat. Lama-lama mengkristal, bersaput air. Harusnya aku sudah
menyingkir di delapan menit sebelum keberangkatan. Tapi warnamu tak mau
dipersamar hingga keheningan pun menjadi indah terdengar. Benar (kah?) ini
adanya, hujan bersimpangan dengan teduh. lidahku kelu. Pun angin tak hanya
sekedar dari kiasan yang tak perlu kita mengerti maknanya. “Aku kehilangan
kamu.”
Malang, Januari 2013

0 Comments:
Post a Comment