Pada beranda rindu, diammu
menculik aku manakala kilap purnama menerobos jendela. Pun warnamu semakin serupa
mentega, menancapkan gigil pada bunga. Kemudian dingin berpestapora.
: Kau adalah rerintik yang mengeruhi pori-pori awan milik langit paling
biru
Puisi berjatuhan, melautkan harum
yang hujan atau hujan yang harum. Tergelincir aku dalam mantra-mantra, kata
cinta. Menghindari basah pun percuma.
Kau (kah?) gandrung,
menyemarakkan malam menjadi nada. Menyihir aku menjadi kata. Melarung kau-aku
menjadi sonata.
Aku pun gandrung. Untuk kesekian kalinya : padamu.
Malang, Januari 2013

0 Comments:
Post a Comment