Kecipak hujan berderak di ujung-ujung atap kenang.
Mengeruhkan ingatan paling usang yang menahun disemayamkan di halaman karam.
Ialah patah yang kau sebut benalu, yang mencuri bening telagamu, yang
meretakkan dinding-dinding senyap dengan apa yang (katanya) bisa menjawab
segala: waktu.
Padahal hujan, telah kureguk kisah bertemakan
kamu, dari rapat curah sampai renggang harummu. Dari pelukan gelisah sampai
pagutan rindu. Sampai goresan ini melumpur di mataku. Mengakar pada
kristal-kristal yang tak kunjung juga bersenyawa dengan rerintik. Sampai menyangkut
di dahan malam yang beku karena gigil mendekap gelepar jemu. Bahagiakah kau
bisa membuatku begitu?
Katamu, jatuhlah perlahan. Agar butir-butir
kasmaran tak segera disapu gelombang. Juga kecewa tak menderas kuyup jika esok
luka melumat geruskan puisi menjadi serpihan abu yang siap dilarung di lautan.
Seperti itulah yang disebut tak terlalu, tak menipu, tak berwarna abu-abu.
Tapi aku tak peduli, biarlah terik memberangus desir kata-kata, menanak apa
yang tak terjabarkan. Biarlah ranggas menyeret baris-baris rasa, mencumbu musim
yang tak pernah sekali pun menanam dusta yang menyesakkan. Biarkanlah aku,
terus menulis, membaca dan mengeja namamu: lelaki hujanku.
