Tuesday, 25 June 2013

Lelaki Hujanku

Kecipak hujan berderak di ujung-ujung atap kenang. Mengeruhkan ingatan paling usang yang menahun disemayamkan di halaman karam. Ialah patah yang kau sebut benalu, yang mencuri bening telagamu, yang meretakkan dinding-dinding senyap dengan apa yang (katanya) bisa menjawab segala: waktu.


Padahal hujan, telah kureguk kisah bertemakan kamu, dari rapat curah sampai renggang harummu. Dari pelukan gelisah sampai pagutan rindu. Sampai goresan ini melumpur di mataku. Mengakar pada kristal-kristal yang tak kunjung juga bersenyawa dengan rerintik. Sampai menyangkut di dahan malam yang beku karena gigil mendekap gelepar jemu. Bahagiakah kau bisa membuatku begitu?


Katamu, jatuhlah perlahan. Agar butir-butir kasmaran tak segera disapu gelombang. Juga kecewa tak menderas kuyup jika esok luka melumat geruskan puisi menjadi serpihan abu yang siap dilarung di lautan. Seperti itulah yang disebut tak terlalu, tak menipu, tak berwarna abu-abu.
Tapi aku tak peduli, biarlah terik memberangus desir kata-kata, menanak apa yang tak terjabarkan. Biarlah ranggas menyeret baris-baris rasa, mencumbu musim yang tak pernah sekali pun menanam dusta yang menyesakkan. Biarkanlah aku, terus menulis, membaca dan mengeja namamu: lelaki hujanku.


Dengarkan aku https://soundcloud.com/rintikkecil/lelaki-hujanku



Monday, 3 June 2013

Gelombang


Terhamparlah aku di halaman karam, terantuk pecah di debur ombak
Menjadi angin atau asap yang tersembunyi di balik lalu lalang puisi seperti
Asin air laut  yang angslup tiba-tiba pada aroma apa mencari siapa,
Atau siapa menunggu apa, memungut tepi-tepi sepi di antara setangkup buih
Berwajah misteri, lalu pekat menyekat pesisir rasa bernamakan gelombang
Tanpa kata-kata

Ke arah pasang, terkeruklah sel-sel memori tentang yang bermata surut,
Berputih pasir, tak sedikit pun senja. Berparas mimpi, tak sekali pun ada
Lagi-lagi langu, melumpur di terumbu angan, berkelindan haru
Pada karang purba di hulu ingatan yang mencari muara
Serupa ritme penuntun bagi sebutir rindu yang kian satir
Terpagut garang, bibir laut

Laut tak berpenghuni, padahal begitu lengang bagai dadamu yang
Kerap memanjakan nganga sajak di pasir waktu, tanpa
Membiarkan aku, melukis sendu cakrawala dari hujanmu
Yang (terlanjur) membatu diukir tebing-tebing sesal, dan
Membuncah satusatu dari dasar kisah yang menyigi entah
Padamu: gelombang menari gemulai

Malang, 01 Juni 2013

Catatan Rerintik


Dalu, deru menalu, menguning lusuhkan pelepah ingatan. Begitu pun di sudut temaram, ketam-ketam meliuk, menari rangkaikan kisah bertemakan lelakon hujan. Tetapi kau tak kunjung juga berbaur debur, seakan memetakan riuh dalam kuadrat bosan. “Di sini remang, cantikmu akan terhalang rerintik,”suaramu terdengar getir sekali.

Rerintik pun merumuskan dingin dalam tempias. Rupanya ada pandangan yang terhalang kabut, yang (sengaja) kau lewatkan dan kau tanamkan di antara awan mendung berlumpur kelam. Di sela-sela diam bernamakan s-a-n-d-i-w-a-r-a. Kemudian aku melangkah, mengitari buku-buku yang tiba-tiba terjatuh. Entah karena angin atau peran yang terlalu dimanjakan. Ada yang diam-diam terbakar, ada yang terus berusaha meyakinkan. Ada pula yang menahan bagai. Bagai merasakan ranggas. Bagai merindukan hujan. Bagai itu, menyisir cemas, padahal yang (katanya) dirindukan sudah berada di depan.

“Lelucon apa ini, Kakanda?” tanyaku tanpa titik koma. Direntangkannya busur, dibidikkannya cerita ke mata, telinga, sampai hatiku. Tapi tak ada satu pun panah yang tertancap, mengenaiku. Karena aku, selalu bisa membaca bohongmu. Sudahlah!

Malang, 11 April 2013 (14:18)