Friday, 4 October 2013

Di Beranda Oktober


/1/

Di beranda Oktober, aku menemukan sebuah pena yang tergeletak di bangku taman

Pena kecil yang ditinggalkan pemiliknya karena kehabisan tinta.

Apakah kau kehabisan kata-kata?

Demikianlah, sepanjang malam, kusirami huruf-huruf yang mengeruh di wajah musim

Waktu yang kau-aku seberangi. Serba lalu, di denting yang menghening

atau di hening yang tak lagi mendenting. Luruh bersama kuyup.

Sayup-sayup puisi menggelinding di antara

namamu yang tak lagi mengirim salam.



/2/

Tampak cokelat yang tembakau itu melekat pada helai rerumputan

di beranda Oktober, huruf-huruf hiragana gugur

Jatuh satu per satu mengenai kerudungku. Kuharap angin tak usah terburu-buru

Ada yang ingin lebih lama kupandang, yang ingin kutulis sajakkan

Tentang rindu yang dilukis jarak, di kanvas yang tergeraji

Tentang kalimat yang begitu saja terserak, di kertas-kertas origami

Atau tentang tuan, yang rajin menuruni serambi masjid

Saban hari, dengan sarung rapi, yang lebih rapi dari caramu melipat surat

dengan wangi, yang lebih wangi dari selepas kemarau, ketika air membasahi tanah

Ketika katamu, kau akan menciumi hujan di bawah alisku yang tipis


/3/

Di beranda Oktober, ada huruf-huruf hiragana yang meluapi ingatan

Tentangmu yang serupa bayang

Jauh di awang-awang




Oktober 2013, dari tempat saya menulis puisi sederhana ini buat kamu.




 @rintikkecil



Wednesday, 2 October 2013

Apa Kabar Kotamu?

 :Yogyakarta

/1/
Sampailah kau-aku pada sebuah kota yang sesak penuh oleh lembar-lembar cerita hidup,
di ruas-ruas jalan, kertas-kertas mengudara seperti berlomba, tak ada matinya, berebut sisi
kejar-mengejar menghantarkan pesan: suara memburu dari ujung ke ujung, "lima subuh ke lima subuh berikutnya."
Kemudian saling dikantonginya paragraf demi paragraf yang terkumpul. Di ruang sajak yang berdebu, serakan huruf-huruf tertata, kata-kata terangkai dengan teduh.
Berbaris-baris, berbait-bait. Penyair bertemu keluarganya.

/2/
Di kota tua ini, saban hari penarik becak mengelilingi Malioboro, berselipan laju kuda,
ditemani terik yang menakik, menyengat sampai pelupuknya. Sedang di sudut-sudut pasar Beringharjo masih riuh, oleh para pelancong yang lalu lalang, para penjual yang menawarkan dagangan, kuli panggul yang memikul berkarung-karung beras kehidupan, perempuan tua yang memangku nasi, lauk-pauk, hingga pukul sebelas malam, kota ini masih tetap riuh, dikerumuni orang-orang, seniman-seniman, alunan musik keroncong, dangdut, bunyi tetabuhan.

/3/
Ini kota penyair, yang tak mengenal musim
Ada yang kuyup merindukan kering
Ada yang sayup dirindukan dingin
Diam-diam rindu berhamburan, di sana sini
Maka, sebuah puisi kutulis di wajah langit, di pipi senja, di bibir hujan
di kotaku yang merindukan kotamu.
"Aku Oktober yang mengirim salam."


Dari tempat saya menulis cerita ini untuk kamu.
Awal Oktober 2013
@rintikkecil