/1/
Di
beranda Oktober, aku menemukan sebuah pena yang tergeletak di bangku taman
Pena
kecil yang ditinggalkan pemiliknya karena kehabisan tinta.
Apakah kau kehabisan kata-kata?
Demikianlah,
sepanjang malam, kusirami huruf-huruf yang mengeruh di wajah musim
Waktu
yang kau-aku seberangi. Serba lalu, di denting yang menghening
atau
di hening yang tak lagi mendenting. Luruh bersama kuyup.
Sayup-sayup
puisi menggelinding di antara
namamu
yang tak lagi mengirim salam.
/2/
Tampak
cokelat yang tembakau itu melekat pada helai rerumputan
di
beranda Oktober, huruf-huruf hiragana gugur
Jatuh
satu per satu mengenai kerudungku. Kuharap angin tak usah terburu-buru
Ada
yang ingin lebih lama kupandang, yang ingin kutulis sajakkan
Tentang
rindu yang dilukis jarak, di kanvas yang tergeraji
Tentang
kalimat yang begitu saja terserak, di kertas-kertas origami
Atau
tentang tuan, yang rajin menuruni serambi masjid
Saban
hari, dengan sarung rapi, yang lebih rapi
dari caramu melipat surat
dengan
wangi, yang lebih wangi dari selepas kemarau,
ketika air membasahi tanah
Ketika katamu, kau akan menciumi
hujan di bawah alisku yang tipis
/3/
Di
beranda Oktober, ada huruf-huruf hiragana yang meluapi ingatan
Tentangmu
yang serupa bayang
Jauh
di awang-awang
Oktober
2013, dari tempat saya menulis puisi sederhana ini buat kamu.
You
can hear me on https://soundcloud.com/rintikkecil/di-beranda-oktober
@rintikkecil

0 Comments:
Post a Comment