Friday, 4 October 2013

Di Beranda Oktober


/1/

Di beranda Oktober, aku menemukan sebuah pena yang tergeletak di bangku taman

Pena kecil yang ditinggalkan pemiliknya karena kehabisan tinta.

Apakah kau kehabisan kata-kata?

Demikianlah, sepanjang malam, kusirami huruf-huruf yang mengeruh di wajah musim

Waktu yang kau-aku seberangi. Serba lalu, di denting yang menghening

atau di hening yang tak lagi mendenting. Luruh bersama kuyup.

Sayup-sayup puisi menggelinding di antara

namamu yang tak lagi mengirim salam.



/2/

Tampak cokelat yang tembakau itu melekat pada helai rerumputan

di beranda Oktober, huruf-huruf hiragana gugur

Jatuh satu per satu mengenai kerudungku. Kuharap angin tak usah terburu-buru

Ada yang ingin lebih lama kupandang, yang ingin kutulis sajakkan

Tentang rindu yang dilukis jarak, di kanvas yang tergeraji

Tentang kalimat yang begitu saja terserak, di kertas-kertas origami

Atau tentang tuan, yang rajin menuruni serambi masjid

Saban hari, dengan sarung rapi, yang lebih rapi dari caramu melipat surat

dengan wangi, yang lebih wangi dari selepas kemarau, ketika air membasahi tanah

Ketika katamu, kau akan menciumi hujan di bawah alisku yang tipis


/3/

Di beranda Oktober, ada huruf-huruf hiragana yang meluapi ingatan

Tentangmu yang serupa bayang

Jauh di awang-awang




Oktober 2013, dari tempat saya menulis puisi sederhana ini buat kamu.




 @rintikkecil



0 Comments: