:Yogyakarta
/1/
Sampailah kau-aku pada sebuah kota yang sesak penuh oleh lembar-lembar cerita hidup,
di ruas-ruas jalan, kertas-kertas mengudara seperti berlomba, tak ada matinya, berebut sisi
kejar-mengejar menghantarkan pesan: suara memburu dari ujung ke ujung, "lima subuh ke lima subuh berikutnya."
Kemudian saling dikantonginya paragraf demi paragraf yang terkumpul. Di ruang sajak yang berdebu, serakan huruf-huruf tertata, kata-kata terangkai dengan teduh.
Berbaris-baris, berbait-bait. Penyair bertemu keluarganya.
/2/
Di kota tua ini, saban hari penarik becak mengelilingi Malioboro, berselipan laju kuda,
ditemani terik yang menakik, menyengat sampai pelupuknya. Sedang di sudut-sudut pasar Beringharjo masih riuh, oleh para pelancong yang lalu lalang, para penjual yang menawarkan dagangan, kuli panggul yang memikul berkarung-karung beras kehidupan, perempuan tua yang memangku nasi, lauk-pauk, hingga pukul sebelas malam, kota ini masih tetap riuh, dikerumuni orang-orang, seniman-seniman, alunan musik keroncong, dangdut, bunyi tetabuhan.
/3/
Ini kota penyair, yang tak mengenal musim
Ada yang kuyup merindukan kering
Ada yang sayup dirindukan dingin
Diam-diam rindu berhamburan, di sana sini
Maka, sebuah puisi kutulis di wajah langit, di pipi senja, di bibir hujan
di kotaku yang merindukan kotamu.
"Aku Oktober yang mengirim salam."
Dari tempat saya menulis cerita ini untuk kamu.
Awal Oktober 2013
@rintikkecil
Wednesday, 2 October 2013
Apa Kabar Kotamu?
Posted by Rintik Kecil at 13:57
Subscribe to:
Post Comments (Atom)


0 Comments:
Post a Comment