Monday, 30 December 2013

Secangkir Hujan Desember Ini

Ada daun berkemas karena langit begitu cemas. "Sebentar lagi akan gerimis, sayangku." Lalu ia menatap tempias seorang perempuan yang mengaduh; pada sebait puisi yang lahir dari air mata dan luka.


Seringkali kata menjadi lusuh ketika tak ada lagi yang tercebur dalam rindu yang membasuh, k-i-t-a. Sementara kita hanyalah kau-aku yang membiarkan kenangan tersayat dingin, membaur bersama sekujur sesal yang melilit, dalam pergi yang tak sebenar-benarnya ingin.


"Rindu, sayangku. Hanyalah perihal kamu yang menyelinap pelan-pelan di antara kata yang sepi, yang saling berpandangan. Meski tak bersisian."


Mari sini sebentar, menyeduh secangkir hujan.
















Malang, akhir Desember 2013.

Saturday, 14 December 2013

Tiga Pagi



Bersama setangkup gerimis dan seduhan teh sepat pukul tiga pagi, kau datang leraikan seteru angin yang gaduh menggangguku menenun cerita.

Di segala ricik yang mericik di sederet huruf yang jelma rindu, kau hamburkan helai-helai mimpi di rambutku, yang lalu kukepang kecil-kecil dan kuberi pita warna-warni. Dalam rangkaian kata yang bergeming di langit hening. Dalam balutan doa yang selalu mempertemukan kita.

Tiga pagi ini, ada desir yang menyisir detik-detik penciptaan ketidakpahaman, yang menyemai apakah. Baiknya pergilah atau lihatlah! Hatiku saat ini sedang dibasahi apa? “Hujan di bulan Desember,” katamu.
Dari kejauhan, seperti bisikan yang samar memanggil, simpul-simpul ingatan yang rengkuh di beberapa jenak, raut kisah yang perih itu, yang tiba-tiba tak jadi murung karena telah lebih dulu, menabuh gandrung.




... Tiga pagi, dari kotaku.