Monday, 3 November 2014

Mesin Waktu

: kau


/1/

Ini tentang Oktober dan sepotong hujan yang kau suguhkan di kepalamu. Tentang gigil yang menyergap tubuhmu dengan sebuah ketenangan yang luar biasa. Secuil demi secuil dingin ingatanmu pun tercetak, mencari jejak; dedaunan yang terkelupas di tangan musim yang tak mengenalkan akhir. Sementara di tangan penyair pemuja hujan, hujan suguhanmu itu digenggam dengan cara yang paling rahasia. Enggan dibagiceritakan dengan daun, reranting basah, dan langitmu yang selalu abu-abu.

/2/
"Hujan selalu menebarkan aroma kehangatan yang memenuhi dada. Seperti minyak kayu putih," katamu. Lalu kau mengembangkan dada sembari meniup tetes demi tetes air hujan yang mengenaimu. Diam-diam aku sering mencuri hangat itu. Sekujur hangat yang membelah, memantul, menggelepar ke hatiku.

/3/
Kau terpengarah, bergegas melukis gelombang hujan dengan tangis yang mendesing. Pikiranmu sibuk mengaduk berhelai rindu yang lapuk. Matamu menyimpan berjuta riak kecil yang mengalun lembut sepeti kabut. Seperti puisi yang bisa menuliskan arti berlega hati. Atau seperti cinta yang akan memelukmu dengan doa.

/4/
"Lalu apakah itu hujan?" ialah mesin waktu yang kerap memanggil debar, serakan lara yang nganga, juga tumpukan rindu paling berdebu. Semoga, mencintaimu tidak membuatku ngilu.


Oktober, 2014.
@rintikkecil

0 Comments: