Monday, 30 December 2013

Secangkir Hujan Desember Ini

Ada daun berkemas karena langit begitu cemas. "Sebentar lagi akan gerimis, sayangku." Lalu ia menatap tempias seorang perempuan yang mengaduh; pada sebait puisi yang lahir dari air mata dan luka.


Seringkali kata menjadi lusuh ketika tak ada lagi yang tercebur dalam rindu yang membasuh, k-i-t-a. Sementara kita hanyalah kau-aku yang membiarkan kenangan tersayat dingin, membaur bersama sekujur sesal yang melilit, dalam pergi yang tak sebenar-benarnya ingin.


"Rindu, sayangku. Hanyalah perihal kamu yang menyelinap pelan-pelan di antara kata yang sepi, yang saling berpandangan. Meski tak bersisian."


Mari sini sebentar, menyeduh secangkir hujan.
















Malang, akhir Desember 2013.

Saturday, 14 December 2013

Tiga Pagi



Bersama setangkup gerimis dan seduhan teh sepat pukul tiga pagi, kau datang leraikan seteru angin yang gaduh menggangguku menenun cerita.

Di segala ricik yang mericik di sederet huruf yang jelma rindu, kau hamburkan helai-helai mimpi di rambutku, yang lalu kukepang kecil-kecil dan kuberi pita warna-warni. Dalam rangkaian kata yang bergeming di langit hening. Dalam balutan doa yang selalu mempertemukan kita.

Tiga pagi ini, ada desir yang menyisir detik-detik penciptaan ketidakpahaman, yang menyemai apakah. Baiknya pergilah atau lihatlah! Hatiku saat ini sedang dibasahi apa? “Hujan di bulan Desember,” katamu.
Dari kejauhan, seperti bisikan yang samar memanggil, simpul-simpul ingatan yang rengkuh di beberapa jenak, raut kisah yang perih itu, yang tiba-tiba tak jadi murung karena telah lebih dulu, menabuh gandrung.




... Tiga pagi, dari kotaku.

Friday, 29 November 2013

Langit Kenang



Puisi kolaborasi saya (@rintikkecil) dengan seorang teman, Arief Budi Wahyono (@AriefBudiW_)




Pada senja yang tak kurencana, serumpun aksara tanggal di rindu yang jauh. Sekisah kasih menjenguk yang lalu, yang bersemayam di balik jejak sajak-sajakku. “Sudah relakah engkau menepikan air mata?” tanyamu menyapa.

Senja semakin dekat ketika sekujur hangat meresap di laut ingatanku. Dari sudut mataku, hujan menuang resah, memangku lelah begitu tabah. Itulah sebabnya, luka tak pernah sepi, tak pernah lupa disinggahi.

“Kita adalah sepasang kehilangan yang salah arah pulang,” kamu menyimpulkan. Padahal sangat bukan. “Sebab, setiap aku berkaca pada matamu. Selalu saja, aku melihat diriku terpantul di sana.Tetapi pergi terlanjur memecah sunyi, memilih sendiri-sendiri. Pelukku, pelukmu (tak) kembali lagi.

Segelintir senyum menembang kenang dan air mata menjadi pelengkap kehilangan. Di sederet huruf yang merangkai namamu, aku masih berusaha mengeja luka yang bahagia, bahagia yang begitu luka.

Usahlah menyalahkan sesiapa yang paling terluka di antara kita. "Kenangan, cukup sesekali ia diziarahi, tak perlu ada yang ikut mengubur diri," bisikku, kepada sunyi.


Pembacaan puisi ini bisa didengarkan di :

 

Sunday, 17 November 2013

Hujan Di Ingatan


Seperti berada di rute menuju teduh matamu, seperti menghafal alur sebuah kisah yang ditulis waktu. Aku mencarimu. Tersebab keresahan tak mau pergi. Melonjak-lonjak di larik-larik puisi.

Seperti awan yang bercengkerama dengan bulan. Seperti senja yang berada di depan jendela, memandang rindu. Aku menemukanmu. Dalam serumpun aksara bernama doa. Sebelum kemudian: ada yang linang di hari yang hujan. Segelintir kenangan dan namamu dalam ingatan.

Malang, 11 November 2013
@rintikkecil

Friday, 4 October 2013

Di Beranda Oktober


/1/

Di beranda Oktober, aku menemukan sebuah pena yang tergeletak di bangku taman

Pena kecil yang ditinggalkan pemiliknya karena kehabisan tinta.

Apakah kau kehabisan kata-kata?

Demikianlah, sepanjang malam, kusirami huruf-huruf yang mengeruh di wajah musim

Waktu yang kau-aku seberangi. Serba lalu, di denting yang menghening

atau di hening yang tak lagi mendenting. Luruh bersama kuyup.

Sayup-sayup puisi menggelinding di antara

namamu yang tak lagi mengirim salam.



/2/

Tampak cokelat yang tembakau itu melekat pada helai rerumputan

di beranda Oktober, huruf-huruf hiragana gugur

Jatuh satu per satu mengenai kerudungku. Kuharap angin tak usah terburu-buru

Ada yang ingin lebih lama kupandang, yang ingin kutulis sajakkan

Tentang rindu yang dilukis jarak, di kanvas yang tergeraji

Tentang kalimat yang begitu saja terserak, di kertas-kertas origami

Atau tentang tuan, yang rajin menuruni serambi masjid

Saban hari, dengan sarung rapi, yang lebih rapi dari caramu melipat surat

dengan wangi, yang lebih wangi dari selepas kemarau, ketika air membasahi tanah

Ketika katamu, kau akan menciumi hujan di bawah alisku yang tipis


/3/

Di beranda Oktober, ada huruf-huruf hiragana yang meluapi ingatan

Tentangmu yang serupa bayang

Jauh di awang-awang




Oktober 2013, dari tempat saya menulis puisi sederhana ini buat kamu.




 @rintikkecil



Wednesday, 2 October 2013

Apa Kabar Kotamu?

 :Yogyakarta

/1/
Sampailah kau-aku pada sebuah kota yang sesak penuh oleh lembar-lembar cerita hidup,
di ruas-ruas jalan, kertas-kertas mengudara seperti berlomba, tak ada matinya, berebut sisi
kejar-mengejar menghantarkan pesan: suara memburu dari ujung ke ujung, "lima subuh ke lima subuh berikutnya."
Kemudian saling dikantonginya paragraf demi paragraf yang terkumpul. Di ruang sajak yang berdebu, serakan huruf-huruf tertata, kata-kata terangkai dengan teduh.
Berbaris-baris, berbait-bait. Penyair bertemu keluarganya.

/2/
Di kota tua ini, saban hari penarik becak mengelilingi Malioboro, berselipan laju kuda,
ditemani terik yang menakik, menyengat sampai pelupuknya. Sedang di sudut-sudut pasar Beringharjo masih riuh, oleh para pelancong yang lalu lalang, para penjual yang menawarkan dagangan, kuli panggul yang memikul berkarung-karung beras kehidupan, perempuan tua yang memangku nasi, lauk-pauk, hingga pukul sebelas malam, kota ini masih tetap riuh, dikerumuni orang-orang, seniman-seniman, alunan musik keroncong, dangdut, bunyi tetabuhan.

/3/
Ini kota penyair, yang tak mengenal musim
Ada yang kuyup merindukan kering
Ada yang sayup dirindukan dingin
Diam-diam rindu berhamburan, di sana sini
Maka, sebuah puisi kutulis di wajah langit, di pipi senja, di bibir hujan
di kotaku yang merindukan kotamu.
"Aku Oktober yang mengirim salam."


Dari tempat saya menulis cerita ini untuk kamu.
Awal Oktober 2013
@rintikkecil




 

Friday, 23 August 2013

Sepetak Gerimis Untukmu

Pada belasan gelas, kuperam seranting ilusi, tentang pesan yang tiba lebih dini, yang diseduh angin dengan nafas terburu. Padahal daun belum sempat mengadu padamu selembar kisah yang disilang-silangkan rindu, dan percakapan-percakapan haru, gugur musim. Serupa harpa, kujelma senar yang mengakar harap, untuk suatu waktu, bisa kau petik. Kau jadikan geletar dan dawai paling cantik.

Di bait antariksa, aku pernah kehabisan cara, menerjemahkan katakata. Apalagi hatimu. Itulah yang menjadi tetiba sebuah jeda meruang pada sepetak gerimis. Lalu adakah yang bergelung hangat di selipan ingatan?

“Ada larik yang belum kauselesaikan dalam sajakmu,” selamu sembari menata kembali huruf-huruf yang semula tercecer, ke aturan paling baku. Kamu berdiri, menjadi sais kereta sebelum jawab berhasil mencium mesra, tanya.

Mencintaimu adalah bait terumit dalam sajakku. Tetapi ketahuilah, tak pernah ada secuil pun inginku berhenti menulis segala tentangmu. Dan dengarlah, Aku hanyalah dingin di sudut paling gerimis. Hanyalah dingin yang ingin lelap didekapmu, dalam rumah paling hangat. K-i-t-a.


Yogyakarta, 24 Juli 2013

Dari Balik Layar Langit Yang Tak Lagi Berwarna Biru

Hai. Sudah lama ya kita tidak lagi bertukar sapa? Apa kabar? Ah, jangankan menanyakan itu. Sekadar menyapa "hai" saja rasanya lebih berat bila dibandingkan dengan berkarung-karung rindu. Rindu yang menyesakkan angka-angka yang dicatatkan kalender. Untuk sepanjang tahunnya.
Hai. Tahukah kamu? masih ada satu pesan (darimu) yang tersisa di inbox-ku. Satu pesan yang sampai kini tak mampu kuhapus, tetapi tak mampu pula kubaca (lagi).
(Dari balik layar langit yang tak lagi berwarna biru, Agustus 2013)

Friday, 12 July 2013

Sepenggal Kisah Dari Menoreh


 Pada kesekian daki, kau-aku bersisian membicarakan wangi rumput liar. Kau-aku lukiskan, dengan cara yang paling sepi. Agar kau-aku mengerti akan arti berlega hati. "Pandang aku dengan mesra," desaumu pada kabut di bait antariksa. Lalu, sebelum ada yang kian ngarai, kau gerai sederet tanya, tentang adakah rindu yang menoreh di kaki bukit sana?

Yogyakarta, 10 Juli 2013

Tuesday, 25 June 2013

Lelaki Hujanku

Kecipak hujan berderak di ujung-ujung atap kenang. Mengeruhkan ingatan paling usang yang menahun disemayamkan di halaman karam. Ialah patah yang kau sebut benalu, yang mencuri bening telagamu, yang meretakkan dinding-dinding senyap dengan apa yang (katanya) bisa menjawab segala: waktu.


Padahal hujan, telah kureguk kisah bertemakan kamu, dari rapat curah sampai renggang harummu. Dari pelukan gelisah sampai pagutan rindu. Sampai goresan ini melumpur di mataku. Mengakar pada kristal-kristal yang tak kunjung juga bersenyawa dengan rerintik. Sampai menyangkut di dahan malam yang beku karena gigil mendekap gelepar jemu. Bahagiakah kau bisa membuatku begitu?


Katamu, jatuhlah perlahan. Agar butir-butir kasmaran tak segera disapu gelombang. Juga kecewa tak menderas kuyup jika esok luka melumat geruskan puisi menjadi serpihan abu yang siap dilarung di lautan. Seperti itulah yang disebut tak terlalu, tak menipu, tak berwarna abu-abu.
Tapi aku tak peduli, biarlah terik memberangus desir kata-kata, menanak apa yang tak terjabarkan. Biarlah ranggas menyeret baris-baris rasa, mencumbu musim yang tak pernah sekali pun menanam dusta yang menyesakkan. Biarkanlah aku, terus menulis, membaca dan mengeja namamu: lelaki hujanku.


Dengarkan aku https://soundcloud.com/rintikkecil/lelaki-hujanku